Thursday, January 3, 2019

Keikhlasan Semesta


Keikhlasan Semesta - Semesta berjalan sesuai alur, menyusun sajak-sajak perjalanan setiap hidup manusia. Susunan puisi yang dikemas rapi, dan rangkaian kata yang membetuk alur kehidupan, penataan detail presisi dengan susunan distorsi yang berpadu.

Namun terkadang semesta lupa untuk mengurus perjalanannya sendiri, mengurusi rumah tangganya, ataupun hubungan yang ia rajut dalam alunan garis edar yang telah ditentukan oleh Tuhan.

Ia tak pernah mengeluh akan usahanya yang telah ia lakukan untuk umat manusia, walaupun sering penghianatan menghantam dirinya, karena ia sadar dalam proses menuju keabadian membutuhan pengorbanan.

Saat manusia sibuk menyalahkan semesta dengan datangnya ancaman dan gangguan pada umat manusia, alam semesta menjadi tersangka utama.

Bagaimana semesta bisa menghadapi itu semua?

Semesta mampu menahan diri karena ia sadar bahwa tumpuan manusia dalam subjek kehidupan adalah ia, jika ia lelah dan menyerah, manusia akan lenyap.

Tugas berat dari Tuhan dititipakan kepadanya. Tugas menjadi tempat kehidupan manusia, tugas memberi alur kehidupan, tugas menjaga manusia yang ia asuh.

Ia menjalankan tugas ini semata karena patuh terhadap Tuhan. Tugas memberi tempat nyaman, mengasuh, membesarkan, mendidik, dan membentuk karakter dari masing-masing manusia. Dan sewaktu-waktu mereka diambil oleh yang memiliki aset tunggal ia ikhlas untuk menyerahkan, karena ia hanya menjalankan tugas.

Seorang petani tak pernah menentukan hasil padi  yang ditanam kelak boleh dimakan oleh siapa, karena petani itu sadar dia hanya bertugas menanam hingga panen, urusan hasil diserahkan kepada semesta untuk mengaturnya ~ kopidikalasenja.me
Read More

Sunday, July 15, 2018

Tuhan Yang Tak Ku Kenal


Tuhan Yang Tak Ku Kenal - Sejak kecil saya telah diperkenalkan Tuhan oleh orang tua saya. Tuhan yang diperkenalkan kepada saya memiliki dua sifat kuat yang mendefinisikan-Nya yaitu "pengasih" dan "penyayang". Tuhan selalu mengasihi apa saja yang diciptakan-Nya dan sifat penyayang yang selalu mengayomi dan menjadikan rasa nyaman untuk berlindung dibawah-Nya.

Seiring berjalannya waktu dan saya menginjak masa remaja. Ketika saya mulai dapat berpikir dan merabah alam semesta secara perlahan. Betapa kagetnya mendengar gambaran Tuhan yang sekarang, Tuhan yang begitu kejam, Tuhan yang keras, Tuhan tanpa toleransi. Sangat berbeda dengan Tuhan yang dikenalkan oleh orang tua saya, yang begitu mengasihi dan menyayangi umat-Nya.

Tuhan masa kini yang semakin kerdil, bagaimana tidak?. Tuhan yang maha besar sekarang harus tunduk dan patuh mengikuti fatwa-fatwa pemuka agama, Tuhan yang diseret kemana-mana untuk mengikuti elit parpol saat kampanye, Tuhan yang dipaksa turun ke jalan untuk memenjarakan seseorang, Tuhan yang hanya dijadikan tameng saat seseorang bersalah.

Proses terjadi begitu cepat, hakikat Tuhan yang agung semakin dikerdilkan mengikuti kepentingan oknum tertentu. Hakikat Tuhan secara epistimologi dan ontologi seakan sirna oleh terjemah-terjemah dan tafsir pemuka agama dengan teologi masing-masing. Teologi yang belum tentu benar namun tak mau disalahkan. Sampai kapan pengkerdilan Tuhan akan terus terjadi?

Akankah fitrah dan hakikat Tuhan akan kembali ke asal yaitu yang maha tanpa definisi? Atau akan tetap menjadi Tuhan yang diperbudak manusia? Bagaimana nasib Tuhan di masa mendatang?

Mungkin semua terjadi karena over dogmatis pada hal tertentu, dogmatis terhadap agama, dogmatis terhadap fiqih, dogmatis terhadap parpol, dogmatis terhadap tafsir-tafsir yang menguntungkan pihak tertentu. Tuhan menjadi berlipat ganda dan menjadi serpihan-serpihan kecil.

Bagaimana sikap kita selanjutnya? Berusaha mengembalikan hakikat Tuhan? Atau justru terjerumus pada kumparan yang semakin mengkerdilkan Tuhan? Perlukah Tuhan dibunuh agar oknum-okmun tertentu tak dapat memanfaatkan nama Tuhan demi kepentingan tertentu?

Read More

Wednesday, July 4, 2018

Baik atau Benar

Baik atau Benar - Kita sering mendengar kata baik dan benar dalam kehidupan. Entah kita benar-benar memahami esensi baik dan benar, atau hanya latah dan masuk angin tentang kebenaran. Bahkan kita tak pernah sadar bahwa pertentangan, perpecahan, dan carut-marut yang terjadi didalangi oleh keyakinan antar kebenaran. Walaupun kita tau sampai kapanpun kita tak pernah menemukan hakikat yang sebenarnya benar.


Dalam keyakinan apapun manusia dituntut untuk menemukan kebenaran, karena Tuhan tau sampai kapanpun manusia tak akan pernah menemukan kebenaran sejati. Namun manusia dengan angkuhnya menyatakan diri telah menemukan kebenaran dan menghakimi manusia lain akan kebenaran. Walaupun yang ia permasalahkan bukan kebenaran mutlak, namun hanya kebenaran menurut pihak tertentu.

Dalam kehidupan ini kita juga mengenal adanya esensi baik, baik merupakan kebenaran ataupun ketidakbenaran yang disetujui oleh beberapa individu ataupun kelompok kecil dan besar. Namun kebaikan ini tak pernah menjadi pemicu pertentangan, karena mereka telah sadar bahwa ketidakbenaran yang disetujui akan menjadi kebenaran.

Selain membutuhkan persetujuan, kebaikan yang menjadi kebenaran membutuhkan waktu, momen, dan tempat yang tepat untuk menjadi kebenaran. Jika es masuk dalam cairan yang bernama teh akan menjadi kebenaran karena tempatnya yang tepat. Beda cerita jika es tersebut masuk dalam sayur ataupun berada di atas kertas pekerjaan yang ada di meja.

Manusia dituntut bukan hanya olahraga namun juga olahrasa. Karena keindahan dalam kehidupan yang kita jalani akan lenyap dikarenakan rasa yang kita miliki tak mengikuti alur alam semesta. Bahkan pohon mengikuti arah hembusan angin untuk bertahan, bukan berarti pohon tersebut kalah oleh hembusan angin. Sama halnya manusia, tak perlu mempertentangan kebenaran yang semu jika kita tak mampu menemukan kebenaran yang hakiki. Ikuti alur dan irama alam semesta untuk bertahan dalam kehidupan.
Read More

Sunday, April 15, 2018

Antara Rindu dan Cinta

Antara Rindu dan Cinta - Banyak yang beranggapan bahwa tumbuhnya rindu ketika cinta telah bersemi. Tumbuhnya rindu ketika rasa cinta telah menggulung suasana hati. Terciptanya rindu karena pengaruh cinta yang tak bisa dibendung. Semua anggapan tersebut telah lama menempati pola pikir manusia. Kita lupa bahwa terjadinya cinta ketika rindu dan rasa simpati telah menjadi satu dimensi yang menempati ruang dalam hati. 

Sumber Foto : http//www.canva.com

Dimana saat rindu telah bersemayam melahirkan benih-benih cinta yang membelenggu fikiran. Realitas mulai dirasuki nurani untuk merasakan cinta. Logika yang berangsur menjadi khayalan indah dalam dimensi cinta. Penafsiran-penafsiran yang selama ini menjadi pedoman kuat seketika lenyap karena datangnya cinta. 

Rindu sebagai ombak dan cinta menjelma menjadi laut. Dua dimensi yang beriringan seakan lahir dengan kehendak Tuhan. Sukma yang teduh menjadi berbinar saat datangnya dua hal tersebut. Menjadi penerang jiwa, dalam kegelapan yang tak kunjung usai.

Berjalanlah menuju hamparan padi yang sangat luas. Terus berjalan tanpa ada fikiran sedikitpun untuk kembali. Dan petiklah batang padi yang paling indah diantara paling indah. Kemudian kembalilah.

Jika kau berjalan untuk menemukan batang padi yang paling indah. Kau tak akan menemukan dengan rasionalitasmu. Itulah yang dinamakan cinta.

Teruslah berjalan untuk menemukan cinta. Jika kau tak sanggup, berdialektikalah dengan Tuhan agar kau dituntun kepada hakikat cinta.

Tumbuh suburnya cinta merupakan buah dari rasa benci. Dengan rasa benci dari yang kau cintai akan semakin menumbuhkan rasa cinta dalam jiwamu. Karena rasa benci akan pudar dengan hembusan cinta.

Namun, jika ketidakpedulian menyelimuti perasaan yang kau cintai. Rasa cintamu akan berangsur hilang. Karena ketidakpedulian menjadi sumber rusaknya rasa cinta.

Cinta lebih membutuhkan kebencian dibandingkan ketidakpedulian. Kebencian merupakan rasa cinta yang menyamar. Ketidakpedulian bisa saja rasa cinta yang mulai hilang.
Read More

Monday, March 19, 2018

Gagasan Pemikiran Rumi

Gagasan Pemikiran RumiJika berbicara tentang “cinta”. Sebagian besar penyair akan tertuju pada satu tokoh sufi yang sangat terkenal. Siapa lagi kalau bukan Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin al Khattabi al-Bakri (Jalaluddin Rumi) atau lebih familiar dengan sebutan “Rumi”. Rumi merupakan tokoh sufi dan penyair yang lahir pada tanggal 6 Rabiul Awwal 604 Hijriah atau 30 September 1207 Masehi di  negara Balkh (Samarkand). Nasab dari sang ayah hingga ke Abu Bakar, dan ibu keturunan dari kerajaan Khwarazm
Maulana Jalaludin Rumi
Rumi memiliki beberapa guru yang menjadikannya seorang sufi yang terkenal dengan ajaran cinta yang diberikan oleh sang guru antara lain Syamsuddin (Tabriz) dan Husamuddin (Ghalabi) hingga membuahkan karya pertamanya yaitu Matsnawi-ye Ma’nawi.

Karya pertama yang diciptakan oleh Rumi merupakan sebuah revolusi dari ilmu yang dianggap telah kehilangan gairah dan semangat yaitu "Ilmu Kalam". Isi dari karyanya merupakan kritikan yang ditujukan pada Ilmu Filsafat yang jauh melampaui batas, membelenggu hakikat dan mengkultus rasio. Hal tersebut sebagai ciri khas dari karya Rumi dibanding dengan tokoh sufi lainnya. 

Rumi beranggapan bahwa semua yang digambarkan tentang alam semesta dengan akal fikiran hanyalah batas pemahaman dari manusia, karna alam semesta memiliki hakikat jauh dari apa yang difikirkan oleh otak manusia. Untuk dapat memahami alam semesta bukan hanya dengan akal fikiran, namun kekuatan utama untuk memahami itu semua adalah cinta. Dalam puisi-puisi  karyanya juga menerangkan bahwa tujuan utama adalah Tuhan dan untuk dapat mencapainya hanya dengan satu cara, yaitu cinta. 

Namun dalam beberapa karya yang telah ia ciptakan ada beberapa yang cukup “kontoversial” karena puisi tersebut terlihat menyimpang  jika dilihat hanya dari susunan kata yang ia buat. Namun jika dimaknai dengan teliti, puisi tersebut  memiliki susunan imaji-imaji yang akan menjadi sebuah pemahaman menuju Tuhan secara ma’rifat.

Beberapa puisi karya “Maulana Jalaludin Rumi” :


˃˃˃
Rembulan yang tak pernah disaksikan langit bahkan dalam mimpi,
telah kembali.
Dan datanglah api yang tak bisa dipindahkan air apa pun.
Lihatlah rumah tubuh, dan pandanglah jiwaku, Ini membuat mabuk
dan kerinduan itu dengan cawang cintanya.
Ketika pemilik kedai itu menjadi kekasih hatinya,
Darahku berubah menjadi anggur dan hatiku menjadi “kabab”.
Ketika pandangan dipenuhi ingatan kepadanya, datang suara:
Baguslah wahai cawang, hebatlah, wahai anggur!

˃˃˃
Salib dan kristen dari sudut ke sudut
telah kuli atasi. Aku tidak menganut salib.
Rumah berhala kukunjungi, kuil kuno;
tak ada rasa yang bisa kutangkap;
Aku mengunjungi pegunungan Herat dan Kandahar;
Aku lihat, Dia tidak di kedalaman (jurang) atau ketinggian
(gunung) di sana.
Dengan niat, aku daki puncak Gunung Qaf;
di tempat itu tiada apa-apa kecuali ‘Anga’
Aku arahkan pencarianku menuju Ka’bah;
dia bukan berada di tempat orang tua dan muda yang
mendapat ilham itu.
Aku tanya Ibnu Sina tentangnya,
dia di luar pengetahuan Ibnu Sina.
Aku mengunjungi ruang “persidangan”;
dia tidak ada di pengadilan Agung itu.
Aku tilik ke dalam hatiku, di sanalah aku menemukannya;
Dia tidak berada di mana-mana (di tempat lain).

˃˃˃
Melalui cinta duri menjadi mawar, dan
Melalui cinta cuka menjadi anggur manis
Melalui cinta tonggak menjadi duri
Melalui cinta kemalangan nampak seperti keberuntungan
Melalui cinta  penjara nampak seperti jalan yang rindang
Melalui cinta tempat perapian yang penuh abu nampak seperti taman
Melalui cinta api yang menyala adalah cahaya yang menyenagkan
Melalui cinta setan menjadi Houri
Melalui cinta batu keras menjadi selembut mentega
Melalui cinta  duka adalah kesenangan
Melalui cinta hantu pemakan mayat berubah menjadi malaikat
Melalui cinta sengatan adalah seperti madu
Melalui cinta singa adalah sejinak tikus
Melalui cinta penyakit adalah kesehatan
Melalui cinta sumpah serapah adalah seperti balas kasih

Read More