Wednesday, January 30, 2019

Menjadi Manusia, Melawan Ketidakadilan


Ketika manusia lahir dari seorang rahim ibu, dengan waktu yang bersamaan kewajiban menjadi manusia seutuhnya telah melekat pada dirinya. Dalam proses pencarian, pemikiran, dan pengalaman empiris manusia akan sedikit dapat meraba hakikat yang harus dijalani dengan bantuan ruang waktu pada proses tersebut. Pembentukan pola, tindakan, dan budaya pada sosial masyarakat jauh sebelum agama datang, telah mengenal suatu paham yang dinamakan kemanusiaan.

Agama mulai berbondong-bondong datang untuk membenahi tatanan masyarakat yang kurang tepat dengan gaya dan ajaran masing-masing. Namun yang sama dari agama- agama tersebut yaitu saling menolong sesama manusia, dan ajaran paling fundamental setelah tata cara menyembah  Tuhan yaitu menyayangi sesama manusia.

Ketika sesuatu yang mulai berkembang dan menjadi mayoritas, dalam  waktu yang bersamaan pula ketidakadilan mulai tumbuh dan menjadi hal yang lumrah. Diakui ataupun tidak hal tersebut telah menjadi tatanan moral yang salah kaprah dan terjadi terus menerus hingga menjadi budaya  yang susah untuk dirubah, termasuk pemeluk agama mayoritas di suatu wilayah.

Dalam suatu keadaan, dimana seorang pemeluk agama minoritas dengan tindakan sosial yang baik, namun berada pada lingkungan orang yang memeluk  agama mayoritas, akan dipandang sebelah mata oleh masyarakat umum. Kesalahan yang kecil menjadikan lingkungan tersebut riuh seakan kesalahan tersebut sangat-sangat besar dan fatal.

Dalam keadaan yang lain, dimana orang pemeluk agama mayoritas dengan tindakan sosial yang buruk, namun tindakan itu dianggap wajar dan menguntungkan pemeluk mayoritas, walaupun tindakan tersebut merugikan minoritas. Dan sering melakukan kesalahan-kesalahan yang besar dan fatal akan dipandang sebagai kewajaran oleh masyarakat umum.

Hal tersebut dapat kita sebut sebagai ketidakadilan. Diterima atau tidak, hal tersebut telah melekat  pada tatanan kehidupan manusia. Minoritas menjadi santapan ketidakadilan, sedangkan mayoritas menindas dengan budaya kewajaran dari suara terbanyak dari tindakan ketidakadilan tersebut.

Ketidakadilan yang dilakukan oleh mayoritas pemeluk agama diperkuat dengan plintiran-plintiran makna sesungguhnya dari firman Tuhan. Sabda Tuhan yang seharusnya membawa perdamaian menjadi suatu tindakan ketidakadilan yang dilakukan oleh pemuka  agama demi kepentingan kelompok.

Apa yang arus kita lakukan? Sedangkan mereka menggunakan plintiran sabda Tuhan untuk menghantam yang melakukan perlawanan terhadap mereka? Satu hal dan wajib kita lakukan adalah melawan ketidakadilan tersebut. Dengan diawali usaha kita tidak melakukan tindakan yang merugikan umat beragama lain, dan melakukan filter terhadap apa yang kita dengar tentang sabda Tuhan dari pemuka agama yang memiliki kepentingan kelompok. Sebisa mungkin kita tidak melakukan ketidakadilan tersebut sebelum kita melakukan perlawanan pada ketidakadilan.

Namun tak jarang dalam ruang waktu yang berbeda banyak manusia mengambil langkah aman dengan bersikap diam saat ketidakadilan itu terjadi dengan dalih keselamatan, karena jika mereka melawan kepentingan pemuka agama yang membenarkan ketidakadilan nyawa mereka terancam.

Ketidakadilan yang dilakukan oleh mayoritas secara terus menerus akan menjadikan hal tersebut sebagai kewajaran yang benar  ~ kopidikalasenja.me

Read More

Sunday, January 20, 2019

Suasana Kopiku Sore Ini



Kopiku yang hangat sepanjang tahun seketika dingin. Bahkan Dewa Surya yang setiap hari memancarkan sinarnya, tak mampu mengengembalikan semua. Kopi yang sepanjang tahun manis, seketika menjadi pahit dan getir. Sebanyak apapun madu yang kau tuang, tak dapat mempengaruhi rasa kopiku sore ini. Entah apa penyebab ini semua terjadi. 

Senja kemarin yang begitu riang, sore ini terlihat murung seakan menahan pilu. Menutupi keindahahannya dengan mendung dan sambaran petir yang mencekam. Aku hanya duduk menatapnya ditemani gelas kopiku yang dingin dan hambar. Berharap datangnya malam lebih nyaman untuk menikmati kopi ini.

Matahari mulai merambat untuk beristirahat. Sang malam menyeruak dengan iringan derai hujan, petrikor anyir menusuk penciuman. Mendung melumat bulan, meninggalkan resah. Dalam candramawa kuhangatkan kopi, walau ku tau tak ada nirmala malam ini.

Fajar mulai menyapa, mendorongku merenggut semesta. Namun aku sadar, untuk mengahangtkan kopi ini aku tak mampu. Bahkan dalam relung hatiku selalu terngiang, apakah untuk menghangatkan kopi ini sama halnya Bisma yang tewas di medan kurusetra karena sumpahnya ? atau seperti Sayyidina Husain yang gugur di karbala untuk mempertahankan hak-haknya ?.

Surya memancarkan sinar kehidupan, pohon mulai disinari, bakal buah akan segera tumbuh di musim mendatang. Namun ada buah yang sudah terlebih dulu tumbuh walaupun belum waktunya tiba. Buah itu akhirnya gugur, dengan segala cerita di dalamnya, yang tak mungkin dilupakan oleh sang pohon.

Aku tak tau dan masih meraba semua yang telah terjadi, dinginnya kopi ini karena masa hangat kopi ini telah usai atau karena terjangan hujan yang begitu deras, walaupun ku tau hujan tersebut hanya sekejap dibanding dengan hangatnya kopi ini yang telah bertahan bertahun-tahun. Hujan datang membawa kesunyian, mengakibatkan ruang sunyi dalam sepi saat malam menyendiri.

Dalam ledakkan amarah umpatan keluar untuk Tuhan “jika ujungnya kopi ini akan terasa dingin dan hambar, mengapa kau memberi gairah hangat dan manis cukup lama”. Dalam situasi dan kondisi yang telah terjadi aku yakin bahwa Tuhan sedang menguji hambahnya, atau bahkan Tuhan bersekongkol dengan semesta untuk menjadi bara api agar tanah liat menjadi lebih berharga dan bermanfaat dari sebelumnya.

Dalam gundah mencoba mengambil langkah, terus berjuang untuk menghangatkan kopi ini hingga waktunya untuk pulang, menyimpan kopi yang telah dingin dalam lemari lalu menyeduh kopi yang baru, atau bahkan memutuskan tak akan menyeduh dan menikmati kopi untuk selamanya.
Read More

Thursday, January 3, 2019

Keikhlasan Semesta


Keikhlasan Semesta - Semesta berjalan sesuai alur, menyusun sajak-sajak perjalanan setiap hidup manusia. Susunan puisi yang dikemas rapi, dan rangkaian kata yang membetuk alur kehidupan, penataan detail presisi dengan susunan distorsi yang berpadu.

Namun terkadang semesta lupa untuk mengurus perjalanannya sendiri, mengurusi rumah tangganya, ataupun hubungan yang ia rajut dalam alunan garis edar yang telah ditentukan oleh Tuhan.

Ia tak pernah mengeluh akan usahanya yang telah ia lakukan untuk umat manusia, walaupun sering penghianatan menghantam dirinya, karena ia sadar dalam proses menuju keabadian membutuhan pengorbanan.

Saat manusia sibuk menyalahkan semesta dengan datangnya ancaman dan gangguan pada umat manusia, alam semesta menjadi tersangka utama.

Bagaimana semesta bisa menghadapi itu semua?

Semesta mampu menahan diri karena ia sadar bahwa tumpuan manusia dalam subjek kehidupan adalah ia, jika ia lelah dan menyerah, manusia akan lenyap.

Tugas berat dari Tuhan dititipakan kepadanya. Tugas menjadi tempat kehidupan manusia, tugas memberi alur kehidupan, tugas menjaga manusia yang ia asuh.

Ia menjalankan tugas ini semata karena patuh terhadap Tuhan. Tugas memberi tempat nyaman, mengasuh, membesarkan, mendidik, dan membentuk karakter dari masing-masing manusia. Dan sewaktu-waktu mereka diambil oleh yang memiliki aset tunggal ia ikhlas untuk menyerahkan, karena ia hanya menjalankan tugas.

Seorang petani tak pernah menentukan hasil padi  yang ditanam kelak boleh dimakan oleh siapa, karena petani itu sadar dia hanya bertugas menanam hingga panen, urusan hasil diserahkan kepada semesta untuk mengaturnya ~ kopidikalasenja.me
Read More

Sunday, July 15, 2018

Tuhan Yang Tak Ku Kenal


Tuhan Yang Tak Ku Kenal - Sejak kecil saya telah diperkenalkan Tuhan oleh orang tua saya. Tuhan yang diperkenalkan kepada saya memiliki dua sifat kuat yang mendefinisikan-Nya yaitu "pengasih" dan "penyayang". Tuhan selalu mengasihi apa saja yang diciptakan-Nya dan sifat penyayang yang selalu mengayomi dan menjadikan rasa nyaman untuk berlindung dibawah-Nya.

Seiring berjalannya waktu dan saya menginjak masa remaja. Ketika saya mulai dapat berpikir dan merabah alam semesta secara perlahan. Betapa kagetnya mendengar gambaran Tuhan yang sekarang, Tuhan yang begitu kejam, Tuhan yang keras, Tuhan tanpa toleransi. Sangat berbeda dengan Tuhan yang dikenalkan oleh orang tua saya, yang begitu mengasihi dan menyayangi umat-Nya.

Tuhan masa kini yang semakin kerdil, bagaimana tidak?. Tuhan yang maha besar sekarang harus tunduk dan patuh mengikuti fatwa-fatwa pemuka agama, Tuhan yang diseret kemana-mana untuk mengikuti elit parpol saat kampanye, Tuhan yang dipaksa turun ke jalan untuk memenjarakan seseorang, Tuhan yang hanya dijadikan tameng saat seseorang bersalah.

Proses terjadi begitu cepat, hakikat Tuhan yang agung semakin dikerdilkan mengikuti kepentingan oknum tertentu. Hakikat Tuhan secara epistimologi dan ontologi seakan sirna oleh terjemah-terjemah dan tafsir pemuka agama dengan teologi masing-masing. Teologi yang belum tentu benar namun tak mau disalahkan. Sampai kapan pengkerdilan Tuhan akan terus terjadi?

Akankah fitrah dan hakikat Tuhan akan kembali ke asal yaitu yang maha tanpa definisi? Atau akan tetap menjadi Tuhan yang diperbudak manusia? Bagaimana nasib Tuhan di masa mendatang?

Mungkin semua terjadi karena over dogmatis pada hal tertentu, dogmatis terhadap agama, dogmatis terhadap fiqih, dogmatis terhadap parpol, dogmatis terhadap tafsir-tafsir yang menguntungkan pihak tertentu. Tuhan menjadi berlipat ganda dan menjadi serpihan-serpihan kecil.

Bagaimana sikap kita selanjutnya? Berusaha mengembalikan hakikat Tuhan? Atau justru terjerumus pada kumparan yang semakin mengkerdilkan Tuhan? Perlukah Tuhan dibunuh agar oknum-okmun tertentu tak dapat memanfaatkan nama Tuhan demi kepentingan tertentu?

Read More

Wednesday, July 4, 2018

Baik atau Benar

Baik atau Benar - Kita sering mendengar kata baik dan benar dalam kehidupan. Entah kita benar-benar memahami esensi baik dan benar, atau hanya latah dan masuk angin tentang kebenaran. Bahkan kita tak pernah sadar bahwa pertentangan, perpecahan, dan carut-marut yang terjadi didalangi oleh keyakinan antar kebenaran. Walaupun kita tau sampai kapanpun kita tak pernah menemukan hakikat yang sebenarnya benar.


Dalam keyakinan apapun manusia dituntut untuk menemukan kebenaran, karena Tuhan tau sampai kapanpun manusia tak akan pernah menemukan kebenaran sejati. Namun manusia dengan angkuhnya menyatakan diri telah menemukan kebenaran dan menghakimi manusia lain akan kebenaran. Walaupun yang ia permasalahkan bukan kebenaran mutlak, namun hanya kebenaran menurut pihak tertentu.

Dalam kehidupan ini kita juga mengenal adanya esensi baik, baik merupakan kebenaran ataupun ketidakbenaran yang disetujui oleh beberapa individu ataupun kelompok kecil dan besar. Namun kebaikan ini tak pernah menjadi pemicu pertentangan, karena mereka telah sadar bahwa ketidakbenaran yang disetujui akan menjadi kebenaran.

Selain membutuhkan persetujuan, kebaikan yang menjadi kebenaran membutuhkan waktu, momen, dan tempat yang tepat untuk menjadi kebenaran. Jika es masuk dalam cairan yang bernama teh akan menjadi kebenaran karena tempatnya yang tepat. Beda cerita jika es tersebut masuk dalam sayur ataupun berada di atas kertas pekerjaan yang ada di meja.

Manusia dituntut bukan hanya olahraga namun juga olahrasa. Karena keindahan dalam kehidupan yang kita jalani akan lenyap dikarenakan rasa yang kita miliki tak mengikuti alur alam semesta. Bahkan pohon mengikuti arah hembusan angin untuk bertahan, bukan berarti pohon tersebut kalah oleh hembusan angin. Sama halnya manusia, tak perlu mempertentangan kebenaran yang semu jika kita tak mampu menemukan kebenaran yang hakiki. Ikuti alur dan irama alam semesta untuk bertahan dalam kehidupan.
Read More