Sunday, July 15, 2018

Tuhan Yang Tak Ku Kenal


Sejak kecil saya telah diperkenalkan Tuhan oleh orang tua saya. Tuhan yang diperkenalkan kepada saya memiliki dua sifat kuat yang mendefinisikan-Nya yaitu "pengasih" dan "penyayang". Tuhan selalu mengasihi apa saja yang diciptakan-Nya dan sifat penyayang yang selalu mengayomi dan menjadikan rasa nyaman untuk berlindung dibawah-Nya.

Seiring berjalannya waktu dan saya menginjak masa remaja. Ketika saya mulai dapat berpikir dan merabah alam semesta secara perlahan. Betapa kagetnya mendengar gambaran Tuhan yang sekarang, Tuhan yang begitu kejam, Tuhan yang keras, Tuhan tanpa toleransi. Sangat berbeda dengan Tuhan yang dikenalkan oleh orang tua saya, yang begitu mengasihi dan menyayangi umat-Nya.

Tuhan masa kini yang semakin kerdil, bagaimana tidak?. Tuhan yang maha besar sekarang harus tunduk dan patuh mengikuti fatwa-fatwa pemuka agama, Tuhan yang diseret kemana-mana untuk mengikuti elit parpol saat kampanye, Tuhan yang dipaksa turun ke jalan untuk memenjarakan seseorang, Tuhan yang hanya dijadikan tameng saat seseorang bersalah.

Proses terjadi begitu cepat, hakikat Tuhan yang agung semakin dikerdilkan mengikuti kepentingan oknum tertentu. Hakikat Tuhan secara epistimologi dan ontologi seakan sirna oleh terjemah-terjemah dan tafsir pemuka agama dengan teologi masing-masing. Teologi yang belum tentu benar namun tak mau disalahkan. Sampai kapan pengkerdilan Tuhan akan terus terjadi?

Akankah fitrah dan hakikat Tuhan akan kembali ke asal yaitu yang maha tanpa definisi? Atau akan tetap menjadi Tuhan yang diperbudak manusia? Bagaimana nasib Tuhan di masa mendatang?

Mungkin semua terjadi karena over dogmatis pada hal tertentu, dogmatis terhadap agama, dogmatis terhadap fiqih, dogmatis terhadap parpol, dogmatis terhadap tafsir-tafsir yang menguntungkan pihak tertentu. Tuhan menjadi berlipat ganda dan menjadi serpihan-serpihan kecil.

Bagaimana sikap kita selanjutnya? Berusaha mengembalikan hakikat Tuhan? Atau justru terjerumus pada kumparan yang semakin mengkerdilkan Tuhan? Perlukah Tuhan dibunuh agar oknum-okmun tertentu tak dapat memanfaatkan nama Tuhan demi kepentingan tertentu?

Read More

Wednesday, July 4, 2018

Baik atau Benar

Kita sering mendengar kata baik dan benar dalam kehidupan. Entah kita benar-benar memahami esensi baik dan benar, atau hanya latah dan masuk angin tentang kebenaran. Bahkan kita tak pernah sadar bahwa pertentangan, perpecahan, dan carut-marut yang terjadi didalangi oleh keyakinan antar kebenaran. Walaupun kita tau sampai kapanpun kita tak pernah menemukan hakikat yang sebenarnya benar.


Dalam keyakinan apapun manusia dituntut untuk menemukan kebenaran, karena Tuhan tau sampai kapanpun manusia tak akan pernah menemukan kebenaran sejati. Namun manusia dengan angkuhnya menyatakan diri telah menemukan kebenaran dan menghakimi manusia lain akan kebenaran. Walaupun yang ia permasalahkan bukan kebenaran mutlak, namun hanya kebenaran menurut pihak tertentu.

Dalam kehidupan ini kita juga mengenal adanya esensi baik, baik merupakan kebenaran ataupun ketidakbenaran yang disetujui oleh beberapa individu ataupun kelompok kecil dan besar. Namun kebaikan ini tak pernah menjadi pemicu pertentangan, karena mereka telah sadar bahwa ketidakbenaran yang disetujui akan menjadi kebenaran.

Selain membutuhkan persetujuan, kebaikan yang menjadi kebenaran membutuhkan waktu, momen, dan tempat yang tepat untuk menjadi kebenaran. Jika es masuk dalam cairan yang bernama teh akan menjadi kebenaran karena tempatnya yang tepat. Beda cerita jika es tersebut masuk dalam sayur ataupun berada di atas kertas pekerjaan yang ada di meja.

Manusia dituntut bukan hanya olahraga namun juga olahrasa. Karena keindahan dalam kehidupan yang kita jalani akan lenyap dikarenakan rasa yang kita miliki tak mengikuti alur alam semesta. Bahkan pohon mengikuti arah hembusan angin untuk bertahan, bukan berarti pohon tersebut kalah oleh hembusan angin. Sama halnya manusia, tak perlu mempertentangan kebenaran yang semu jika kita tak mampu menemukan kebenaran yang hakiki. Ikuti alur dan irama alam semesta untuk bertahan dalam kehidupan.
Read More

Sunday, April 15, 2018

Antara Rindu dan Cinta

Banyak yang beranggapan bahwa tumbuhnya rindu ketika cinta telah bersemi. Tumbuhnya rindu ketika rasa cinta telah menggulung suasana hati. Terciptanya rindu karena pengaruh cinta yang tak bisa dibendung. Semua anggapan tersebut telah lama menempati pola pikir manusia. Kita lupa bahwa terjadinya cinta ketika rindu dan rasa simpati telah menjadi satu dimensi yang menempati ruang dalam hati. 

Sumber Foto : http//www.canva.com

Dimana saat rindu telah bersemayam melahirkan benih-benih cinta yang membelenggu fikiran. Realitas mulai dirasuki nurani untuk merasakan cinta. Logika yang berangsur menjadi khayalan indah dalam dimensi cinta. Penafsiran-penafsiran yang selama ini menjadi pedoman kuat seketika lenyap karena datangnya cinta. 

Rindu sebagai ombak dan cinta menjelma menjadi laut. Dua dimensi yang beriringan seakan lahir dengan kehendak Tuhan. Sukma yang teduh menjadi berbinar saat datangnya dua hal tersebut. Menjadi penerang jiwa, dalam kegelapan yang tak kunjung usai.

Berjalanlah menuju hamparan padi yang sangat luas. Terus berjalan tanpa ada fikiran sedikitpun untuk kembali. Dan petiklah batang padi yang paling indah diantara paling indah. Kemudian kembalilah.

Jika kau berjalan untuk menemukan batang padi yang paling indah. Kau tak akan menemukan dengan rasionalitasmu. Itulah yang dinamakan cinta.

Teruslah berjalan untuk menemukan cinta. Jika kau tak sanggup, berdialektikalah dengan Tuhan agar kau dituntun kepada hakikat cinta.

Tumbuh suburnya cinta merupakan buah dari rasa benci. Dengan rasa benci dari yang kau cintai akan semakin menumbuhkan rasa cinta dalam jiwamu. Karena rasa benci akan pudar dengan hembusan cinta.

Namun, jika ketidakpedulian menyelimuti perasaan yang kau cintai. Rasa cintamu akan berangsur hilang. Karena ketidakpedulian menjadi sumber rusaknya rasa cinta.

Cinta lebih membutuhkan kebencian dibandingkan ketidakpedulian. Kebencian merupakan rasa cinta yang menyamar. Ketidakpedulian bisa saja rasa cinta yang mulai hilang.
Read More

Monday, March 19, 2018

Gagasan Pemikiran Rumi

Gagasan Pemikiran RumiJika berbicara tentang “cinta”. Sebagian besar penyair akan tertuju pada satu tokoh sufi yang sangat terkenal. Siapa lagi kalau bukan Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin al Khattabi al-Bakri (Jalaluddin Rumi) atau lebih familiar dengan sebutan “Rumi”. Rumi merupakan tokoh sufi dan penyair yang lahir pada tanggal 6 Rabiul Awwal 604 Hijriah atau 30 September 1207 Masehi di  negara Balkh (Samarkand). Nasab dari sang ayah hingga ke Abu Bakar, dan ibu keturunan dari kerajaan Khwarazm
Maulana Jalaludin Rumi
Rumi memiliki beberapa guru yang menjadikannya seorang sufi yang terkenal dengan ajaran cinta yang diberikan oleh sang guru antara lain Syamsuddin (Tabriz) dan Husamuddin (Ghalabi) hingga membuahkan karya pertamanya yaitu Matsnawi-ye Ma’nawi.

Karya pertama yang diciptakan oleh Rumi merupakan sebuah revolusi dari ilmu yang dianggap telah kehilangan gairah dan semangat yaitu "Ilmu Kalam". Isi dari karyanya merupakan kritikan yang ditujukan pada Ilmu Filsafat yang jauh melampaui batas, membelenggu hakikat dan mengkultus rasio. Hal tersebut sebagai ciri khas dari karya Rumi dibanding dengan tokoh sufi lainnya. 

Rumi beranggapan bahwa semua yang digambarkan tentang alam semesta dengan akal fikiran hanyalah batas pemahaman dari manusia, karna alam semesta memiliki hakikat jauh dari apa yang difikirkan oleh otak manusia. Untuk dapat memahami alam semesta bukan hanya dengan akal fikiran, namun kekuatan utama untuk memahami itu semua adalah cinta. Dalam puisi-puisi  karyanya juga menerangkan bahwa tujuan utama adalah Tuhan dan untuk dapat mencapainya hanya dengan satu cara, yaitu cinta. 

Namun dalam beberapa karya yang telah ia ciptakan ada beberapa yang cukup “kontoversial” karena puisi tersebut terlihat menyimpang  jika dilihat hanya dari susunan kata yang ia buat. Namun jika dimaknai dengan teliti, puisi tersebut  memiliki susunan imaji-imaji yang akan menjadi sebuah pemahaman menuju Tuhan secara ma’rifat.

Beberapa puisi karya “Maulana Jalaludin Rumi” :


˃˃˃
Rembulan yang tak pernah disaksikan langit bahkan dalam mimpi,
telah kembali.
Dan datanglah api yang tak bisa dipindahkan air apa pun.
Lihatlah rumah tubuh, dan pandanglah jiwaku, Ini membuat mabuk
dan kerinduan itu dengan cawang cintanya.
Ketika pemilik kedai itu menjadi kekasih hatinya,
Darahku berubah menjadi anggur dan hatiku menjadi “kabab”.
Ketika pandangan dipenuhi ingatan kepadanya, datang suara:
Baguslah wahai cawang, hebatlah, wahai anggur!

˃˃˃
Salib dan kristen dari sudut ke sudut
telah kuli atasi. Aku tidak menganut salib.
Rumah berhala kukunjungi, kuil kuno;
tak ada rasa yang bisa kutangkap;
Aku mengunjungi pegunungan Herat dan Kandahar;
Aku lihat, Dia tidak di kedalaman (jurang) atau ketinggian
(gunung) di sana.
Dengan niat, aku daki puncak Gunung Qaf;
di tempat itu tiada apa-apa kecuali ‘Anga’
Aku arahkan pencarianku menuju Ka’bah;
dia bukan berada di tempat orang tua dan muda yang
mendapat ilham itu.
Aku tanya Ibnu Sina tentangnya,
dia di luar pengetahuan Ibnu Sina.
Aku mengunjungi ruang “persidangan”;
dia tidak ada di pengadilan Agung itu.
Aku tilik ke dalam hatiku, di sanalah aku menemukannya;
Dia tidak berada di mana-mana (di tempat lain).

˃˃˃
Melalui cinta duri menjadi mawar, dan
Melalui cinta cuka menjadi anggur manis
Melalui cinta tonggak menjadi duri
Melalui cinta kemalangan nampak seperti keberuntungan
Melalui cinta  penjara nampak seperti jalan yang rindang
Melalui cinta tempat perapian yang penuh abu nampak seperti taman
Melalui cinta api yang menyala adalah cahaya yang menyenagkan
Melalui cinta setan menjadi Houri
Melalui cinta batu keras menjadi selembut mentega
Melalui cinta  duka adalah kesenangan
Melalui cinta hantu pemakan mayat berubah menjadi malaikat
Melalui cinta sengatan adalah seperti madu
Melalui cinta singa adalah sejinak tikus
Melalui cinta penyakit adalah kesehatan
Melalui cinta sumpah serapah adalah seperti balas kasih

Read More

Friday, March 9, 2018

Renungan Dalam Segelas Kopi

Renungan Dalam Segelas KopiRintik hujan menemani segelas kopi sore ini. Rintik air yang jatuh seakan menegaskan hakikat air yang selalu mengalir pada tempat yang lebih rendah melalui ruang. Mendung pun menyelimuti keceriaan sang langit. Tak terasa usia semakin hari semakin berkurang, dipenuhi oleh kesibukan dunia yang kental akan unsur “paradox”, yang terus memenjarakan diri dan memaksa mengejarnya.

Sumber Foto ://www.pxhere.com
Kita tau tujuan hidup ini untuk menemukan sang pencipta dan berjalan menuju singgah sana. Namun realitas yang terjadi banyak yang terjebak dunia yang menawarkan pesona yang sebenarnya petaka, ada yang tidak ada, dan yang pasti ternyata hanya ilusi. Semua memaksa kita untuk dijadikan prioritas dan melupakan  prioritas utama. Yang terjadi hidup berlari untuk berhenti.

Sebagian manusia berebut untuk mencapai kursi kematian dengan segala cara, menggalang pasukan huru-hara sebanyak-banyaknya. Strategi disusun sedemikian rupa untuk melancarkan langkah menuju kursi petaka. Menggoreng keyakinan, menggadaikan Tuhan, mengambil alih hak prerogatif Tuhan atas surga dan neraka. Seisi alam semesta harus tunduk padanya. Dalam hal ini bos yang memberi mandat harus taat pada aturan pekerjanya.

Sebagian lainnya sibuk memperkaya diri dengan memeras keringat anak buahnya, memenjarakan waktu pekerja untuk memperkaya  diri, menjadikan manusia lain sebagai mesin uang yang tiada lelah untuk menjadikan ia kaya. Walaupun telah diperas keringatnya, namun sang pekerja tetap tulus ikhlas mendoakan sang juragan agar memiliki banyak rejeki yang akan mengalir sedikit kepadanya.

Sebagian lagi sibuk mempertentangkan surga dan neraka hingga mereka lupa masih masih hidup didunia. Menyikut kelompok lain, menjegal diluar kelompoknya, menghujat yang tak sejalan. Mungkin mereka lupa bahwa tujuan utama hidup adalah Tuhan, buka surga dan neraka. Bahkan mereka dapat menentukan orang lain akan masuk surga ataupun neraka walaupun orang lain tersebut belum meninggalkan dunia ini.

Sebagian lain sibuk dengan misi-misi ilusi yang terdapat pada dunia maya. Melupakan dunia untuk masuk dalam fantasi. Mengabaikan dimensi waktu yang selalu  menemaninya dan yang akan mematikannya. Hidup hanya sebagai budak teknologi  yang semakin hari semakin berkembang. Dan hidupnya hanya terpaku pada satu bidang, dengan melupakan bidang-bidang yang lain.

Sebagian yang belum menemukan esensi dirinya mejadikan obyek-obyek keindahan alam sebagai bahan eksistensi agar diakui bahwa dia ada. Walaupun sebenarnya esensi ada pada diri manusia terjadi ketika manusia tersebut melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Mungkin orang-orang tersebut sedang lupa akan substansi ada yang sebenarnya.

Namun masih terdapat sebagian yang sibuk dengan perbuatan-perbuatan yang bermanfaat, walaupun tak terlihat. Berbuat baik walaupun tak dianggap. Memanfaatkan dunia untuk menggapai Tuhan, walaupun ditertawakan. Menyadari  semua yang terjadi adalah kehendak Tuhan namun ia terus berusaha menjadi yang terbaik. Cinta menyelimuti sepanjang perjalanannya. Kasih sayang dan  nurani menjadi sumber keceriaan.  

Sebagian lainnya hanya duduk merenung ditemani kopi dan rokok seperti kondisi saya saat ini. Menikmati keindahan Tuhan yang terbentang luas sejauh mata memandang maupun yang tak mampu dipandang oleh penglihatan, hanya keyakinan bahwa segala sesuatu yang terlihat, yang ada, yang tiada, yang tak terlihat, dan masih banyak lagi yang lainnya adalah ciptaan Tuhan. Menyadari bahwa semua  yang terjadi adalah sekenario dari Tuhan. Dan kesimpulan yang saya dapat pada pereenungan sore ini adalah Tuhan tak bisa ditebak dengan segala kejutan-kejutanNya.

Read More