Friday, February 16, 2018

Sebab Akibat



Sebab Akibat - Dalam kehidupan ini kita sering mendengar istilah “sebab akibat”. Hal tersebut merupakan “sesuatu” yang terjadi karena “sesuatu” yang terjadi. Rumus yang berlangsung berabad-abad tidak berubah yaitu sesuatu kejadian adalah hasil dari sebab dan kondisi setelah kejadian disebut sebagai akibat. Atau dengan kata lain bahwa sesuatu yang terjadi diawali degan sebab dan diakhiri oleh akibat. Tidak mungkin munculnya suatu akibat tanpa diawali oleh sebab, karena sebab dan akibat memiliki hubungan korespondensi pada  alam semesta ini.

Alam semesta ini memiliki tatanan dan sistem yang tersusun sangat rapi dalam prakteknya memiliki hubungan satu sama lain yang membentuk rantai kehidupan. Tidak ada satu bidang pun  dalam dunia ini tanpa terhubung dalam bidang yang lain. Hal ini memperkuat bahwa adanya akibat dalam dunia ini karena adanya sebab. Pernahkah kita mengalami sesuatu yang terjadi tanpa adanya sebab?

Dalam hal ini manusia terbatas pada pengetahuan yang “terjadi”  dan “akibat” yang terjadi. Jarang ada manusia yang dapat menyusun secara rinci dari sebab, sesuatu yang terjadi, dan akibat. Karena susunan tersebut telah diatur oleh alam semesta dengan rinci. Fikiran dan ekspektasi manusia hanya merupakan gambaran susunan hal  tersebut. Sangat kecil kemungkinan gambaran manusia tentang susunan sebab, kejadian, serta akibat sama persis dengan kenyataan yang terjadi.

Manusia yang sedang berekspektasi  seperti orang yang sedang terbelenggu dalam gua ketidak tahuan yang diselimuti oleh kegelapan. Hanya dapat melihat akibat yang terjadi karna suatu sebab. Tidak dapat berbuat banyak karna terkendala batasan-batasan diri. Ditambah beratnya beban yang dipikul serta tenaga yang telah habis terkuras karena terlibat dalam sebab suatu kejadian.
Sumber Foto : https://www.pxhere.com
Manusia menyangka bahwa bayang-bayang sebagai kenyataan hal yang akan terjadi, walaupun tidak ada realita selain bayang-bayang dalam fikiran manusia. Dalam keterbatasan itu seringkali manusia tidak menerima  suatu akibat yang tidak sejalan dengan bayang-banyang dalam fikirannya. Walupun manusia itu sadar atau tidak bahwa tidak ada realita masa mendatang selain bayang-bayang yang ada dalam fikiran mereka.

Namun dalam bayang-bayang tersebut akan terlihat gambaran yang sebenarnya karna adanya ruang dan waktu yang berkaitan dengan sebab akibat. Berangsur-angsur manusia menyadari bahwa mereka harus menyesuaikan ekspektasi yang ada dalam fikirannya dengan akibat dari sesuatu yang terjadi. Agar manusia tidak tersiksa dengan belenggu keterbatasan yang ada pada dirinya.

Jika manusia hanya berkutat pada  ekspektasi akibat sesuatu yang terjadi, ia akan tersiksa oleh kenyataan yang terjadi karna tidak sesuai ekspektasi yang ia susun. Fikiran dan perbuatan terkadang menjadi suatu hal yang bersebrangan, ditambah lagi sesuatu yang terjadi pada dirinya. Masuklah pada sebab dan bersiaplah menerima akibat agar ekspektasi dapat luntur oleh kenyataan.

Ekspektasi paling baik adalah yang keluar dari fikiran jernih dan disempurnakan oleh hati nurani. Karna hati nurani sadar bahwa akibat tak akan sama dengan ekspektasi. Dan nurani akan selalu mengikuti perkembangan yang terjadi pada suatu akibat. Bahkan pohon pun tak pernah protes jika ia ditebang, walaupun ia tak tau apa penyebab ia ditebang.

Pada intinya semua sebab akan menimbulkan akibat. Kita tak tau akibat yang terjadi itu buruk atau baik bagi kita. Usaha untuk memperbaiki akibat adalah membenahi sebab agar akibat yang terjadi menjadi baik bagi diri kita.

Manusia cenderung bernafsu dan secara cara tak sadar menghilangkan cinta dalam dirinya. Entah itu ia sadar atau tidak bahwa cinta adalah kekuatan terbesar yang dihasilkan oleh nurani. Cinta merupakan elemem paling kuat untuk menghadapi ketidak selarasan akibat yang terjadi dengan ekspektasi yang ada.

Banyak dari kita yang semangat menanti suatu sebab dari sebuah kejadian. Tetapi  jika sebab tersebut tak sesuai harpan kita, apakah yang akan kita lakukan? Banyak dari kita yang tidak menerimannya, sulit menerima, atau bahkan memberontak keadaan. Walaupun sehebat apapun kita berontak tak akan merubah akibat yang terjadi karena sebab akibat telah disusun oleh alam.

Jangan seperti orang yang hendak tenggelam. Apa saja diraih agar tidak tenggelam.  Wlaupun sesuatu yang diraih tidak relevan dengan sesuatu yang dapat menolong  jika tenggelam. Jangan menghalalkan segala cara jika sesuatu tak sejalan dengan anganmu, walaupun kau tau cara tersebut tidak dapat membuat suatu kejadian menjadi lebih baik.

Tak usah susah payah memecah tembikar yang tak sesuai dengan keinginanmu, semua yang kau lakukan jika telah terjadi akan sia-sia. Persiapkanlah saat akan memproses tanah liat menjadi tembikar, agar tembikar yang kau siapkan sebelum terbentuk sesuai yang ekspektasi yang kau susun.

Dalam menghadapi tak sejalannya akibat dengan ekspektasimu bukan dengan merubah akibat itu sendiri.  Cara paling tepat ialah mempersiapkan  sebab sebaik mungkin agar akibat yang terjadi sejalan dengan apa yang kau pikirkan. Merendahkan ekspektasi, mempersiapkan suatu sebab, dan mengikut sertakan cinta didalamnya akan membuat kita menjadi nyaman menjalani semua.


EmoticonEmoticon