Monday, March 19, 2018

Gagasan Pemikiran Rumi

Gagasan Pemikiran RumiJika berbicara tentang “cinta”. Sebagian besar penyair akan tertuju pada satu tokoh sufi yang sangat terkenal. Siapa lagi kalau bukan Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin al Khattabi al-Bakri (Jalaluddin Rumi) atau lebih familiar dengan sebutan “Rumi”. Rumi merupakan tokoh sufi dan penyair yang lahir pada tanggal 6 Rabiul Awwal 604 Hijriah atau 30 September 1207 Masehi di  negara Balkh (Samarkand). Nasab dari sang ayah hingga ke Abu Bakar, dan ibu keturunan dari kerajaan Khwarazm
Maulana Jalaludin Rumi
Rumi memiliki beberapa guru yang menjadikannya seorang sufi yang terkenal dengan ajaran cinta yang diberikan oleh sang guru antara lain Syamsuddin (Tabriz) dan Husamuddin (Ghalabi) hingga membuahkan karya pertamanya yaitu Matsnawi-ye Ma’nawi.

Karya pertama yang diciptakan oleh Rumi merupakan sebuah revolusi dari ilmu yang dianggap telah kehilangan gairah dan semangat yaitu "Ilmu Kalam". Isi dari karyanya merupakan kritikan yang ditujukan pada Ilmu Filsafat yang jauh melampaui batas, membelenggu hakikat dan mengkultus rasio. Hal tersebut sebagai ciri khas dari karya Rumi dibanding dengan tokoh sufi lainnya. 

Rumi beranggapan bahwa semua yang digambarkan tentang alam semesta dengan akal fikiran hanyalah batas pemahaman dari manusia, karna alam semesta memiliki hakikat jauh dari apa yang difikirkan oleh otak manusia. Untuk dapat memahami alam semesta bukan hanya dengan akal fikiran, namun kekuatan utama untuk memahami itu semua adalah cinta. Dalam puisi-puisi  karyanya juga menerangkan bahwa tujuan utama adalah Tuhan dan untuk dapat mencapainya hanya dengan satu cara, yaitu cinta. 

Namun dalam beberapa karya yang telah ia ciptakan ada beberapa yang cukup “kontoversial” karena puisi tersebut terlihat menyimpang  jika dilihat hanya dari susunan kata yang ia buat. Namun jika dimaknai dengan teliti, puisi tersebut  memiliki susunan imaji-imaji yang akan menjadi sebuah pemahaman menuju Tuhan secara ma’rifat.

Beberapa puisi karya “Maulana Jalaludin Rumi” :


˃˃˃
Rembulan yang tak pernah disaksikan langit bahkan dalam mimpi,
telah kembali.
Dan datanglah api yang tak bisa dipindahkan air apa pun.
Lihatlah rumah tubuh, dan pandanglah jiwaku, Ini membuat mabuk
dan kerinduan itu dengan cawang cintanya.
Ketika pemilik kedai itu menjadi kekasih hatinya,
Darahku berubah menjadi anggur dan hatiku menjadi “kabab”.
Ketika pandangan dipenuhi ingatan kepadanya, datang suara:
Baguslah wahai cawang, hebatlah, wahai anggur!

˃˃˃
Salib dan kristen dari sudut ke sudut
telah kuli atasi. Aku tidak menganut salib.
Rumah berhala kukunjungi, kuil kuno;
tak ada rasa yang bisa kutangkap;
Aku mengunjungi pegunungan Herat dan Kandahar;
Aku lihat, Dia tidak di kedalaman (jurang) atau ketinggian
(gunung) di sana.
Dengan niat, aku daki puncak Gunung Qaf;
di tempat itu tiada apa-apa kecuali ‘Anga’
Aku arahkan pencarianku menuju Ka’bah;
dia bukan berada di tempat orang tua dan muda yang
mendapat ilham itu.
Aku tanya Ibnu Sina tentangnya,
dia di luar pengetahuan Ibnu Sina.
Aku mengunjungi ruang “persidangan”;
dia tidak ada di pengadilan Agung itu.
Aku tilik ke dalam hatiku, di sanalah aku menemukannya;
Dia tidak berada di mana-mana (di tempat lain).

˃˃˃
Melalui cinta duri menjadi mawar, dan
Melalui cinta cuka menjadi anggur manis
Melalui cinta tonggak menjadi duri
Melalui cinta kemalangan nampak seperti keberuntungan
Melalui cinta  penjara nampak seperti jalan yang rindang
Melalui cinta tempat perapian yang penuh abu nampak seperti taman
Melalui cinta api yang menyala adalah cahaya yang menyenagkan
Melalui cinta setan menjadi Houri
Melalui cinta batu keras menjadi selembut mentega
Melalui cinta  duka adalah kesenangan
Melalui cinta hantu pemakan mayat berubah menjadi malaikat
Melalui cinta sengatan adalah seperti madu
Melalui cinta singa adalah sejinak tikus
Melalui cinta penyakit adalah kesehatan
Melalui cinta sumpah serapah adalah seperti balas kasih

2 komentar


EmoticonEmoticon