Saturday, March 3, 2018

Kopi Dikala Senja

Kopi Dikala Senja - Senja menghampiri ditemani segelas kopi dan asap dari rokok yang menyala. Melepas penat dari hiruk-pikuk dunia tiada henti. Fikiran melayang menuju yang tak terbatas. Berjalan menyusuri ruang kosong dimensi lain. Kembali tersadar untuk menikmati panorama senja seakan tiada habisnya. Perpaduan manis dan pahit menyelimuti kehidupan dalam evaluasi senja ini. Segelas berisi cairan kehidupan dengan segala macam rasa yang diwakili oleh rasa pahit dan manis. Seakan memberi pelajaran bahwa hidup butuh keseimbangan rasa.

Sumber Foto ://www.pxhere.com

Cairan cinta yang membantah asumsi khalayak umum bahwa yang keruh tak selamanya buruk. Terkadang yang keruh dapat menjadi guru dalam menjalani kehidupan yang kaya akan ilusi. Yang pait akan terasa nikmat dengan sentuhan rasa manis dan perpaduan rasa tawar sebagai penetral rasa. Dengan situasi santai untuk menikmatinya, merubah yang keruh menjadi teman dalam kehidupan.  

Penat terus berangsur hilang dengan berkurangnya cairan cinta dalam gelas. Namun dalam gelas masih tersisa bayang wajahmu yang terus menemani setiap langkahku. Kutuliskan namamu dalam senja agar namamu lebih indah dari senja sore ini. Kau yang selalu menjadi penetral dalam kehidupanku. 

Banyak manusia yang takut kepada senja karna akan datangnya malam. Malam yang terkesan mengerikan manum tersimpan hasil evaluasi kehidupan. Waktu tak butuh persetujuan manusia untuk berjalan. Sekuat apapun untuk menahan malam, akan tetap datang dengan segala misterinya.

Sang malam mulai datang untuk senja yang lelah menemaniku sore ini. Kutitipkan rindu pada senja agar namamu lebih indah dalam keseharian. Terlampau cepat senja ini berlalu meninggalkan pandangan. Gelapnya malam mengingatkanku adanya sisi buruk dalam kehidupan.  Malam yang menjadi teman istirahat kala penat kian memuncak.  Saat manusia terhenti dalam aktivitasnya, menghiraukan sang malam dan meninggalkannya dalam kesendirian. 

Tak selamanya kehidupan menjadi gairah layaknya fajar. Namun tak selamanya buruk seperti sang malam. Siang dan senja melengkapi dalam keseharian. Rasa yang selalu manis tak selamanya memberi kenikmatan, begitu pula yang pahit dengan ciri khasnya. Seperti secangkir kopi dikala senja tiba. 


EmoticonEmoticon