Wednesday, July 4, 2018

Baik atau Benar

Kita sering mendengar kata baik dan benar dalam kehidupan. Entah kita benar-benar memahami esensi baik dan benar, atau hanya latah dan masuk angin tentang kebenaran. Bahkan kita tak pernah sadar bahwa pertentangan, perpecahan, dan carut-marut yang terjadi didalangi oleh keyakinan antar kebenaran. Walaupun kita tau sampai kapanpun kita tak pernah menemukan hakikat yang sebenarnya benar.


Dalam keyakinan apapun manusia dituntut untuk menemukan kebenaran, karena Tuhan tau sampai kapanpun manusia tak akan pernah menemukan kebenaran sejati. Namun manusia dengan angkuhnya menyatakan diri telah menemukan kebenaran dan menghakimi manusia lain akan kebenaran. Walaupun yang ia permasalahkan bukan kebenaran mutlak, namun hanya kebenaran menurut pihak tertentu.

Dalam kehidupan ini kita juga mengenal adanya esensi baik, baik merupakan kebenaran ataupun ketidakbenaran yang disetujui oleh beberapa individu ataupun kelompok kecil dan besar. Namun kebaikan ini tak pernah menjadi pemicu pertentangan, karena mereka telah sadar bahwa ketidakbenaran yang disetujui akan menjadi kebenaran.

Selain membutuhkan persetujuan, kebaikan yang menjadi kebenaran membutuhkan waktu, momen, dan tempat yang tepat untuk menjadi kebenaran. Jika es masuk dalam cairan yang bernama teh akan menjadi kebenaran karena tempatnya yang tepat. Beda cerita jika es tersebut masuk dalam sayur ataupun berada di atas kertas pekerjaan yang ada di meja.

Manusia dituntut bukan hanya olahraga namun juga olahrasa. Karena keindahan dalam kehidupan yang kita jalani akan lenyap dikarenakan rasa yang kita miliki tak mengikuti alur alam semesta. Bahkan pohon mengikuti arah hembusan angin untuk bertahan, bukan berarti pohon tersebut kalah oleh hembusan angin. Sama halnya manusia, tak perlu mempertentangan kebenaran yang semu jika kita tak mampu menemukan kebenaran yang hakiki. Ikuti alur dan irama alam semesta untuk bertahan dalam kehidupan.


EmoticonEmoticon