Sunday, January 20, 2019

Suasana Kopiku Sore Ini



Kopiku yang hangat sepanjang tahun seketika dingin. Bahkan Dewa Surya yang setiap hari memancarkan sinarnya, tak mampu mengengembalikan semua. Kopi yang sepanjang tahun manis, seketika menjadi pahit dan getir. Sebanyak apapun madu yang kau tuang, tak dapat mempengaruhi rasa kopiku sore ini. Entah apa penyebab ini semua terjadi. 

Senja kemarin yang begitu riang, sore ini terlihat murung seakan menahan pilu. Menutupi keindahahannya dengan mendung dan sambaran petir yang mencekam. Aku hanya duduk menatapnya ditemani gelas kopiku yang dingin dan hambar. Berharap datangnya malam lebih nyaman untuk menikmati kopi ini.

Matahari mulai merambat untuk beristirahat. Sang malam menyeruak dengan iringan derai hujan, petrikor anyir menusuk penciuman. Mendung melumat bulan, meninggalkan resah. Dalam candramawa kuhangatkan kopi, walau ku tau tak ada nirmala malam ini.

Fajar mulai menyapa, mendorongku merenggut semesta. Namun aku sadar, untuk mengahangtkan kopi ini aku tak mampu. Bahkan dalam relung hatiku selalu terngiang, apakah untuk menghangatkan kopi ini sama halnya Bisma yang tewas di medan kurusetra karena sumpahnya ? atau seperti Sayyidina Husain yang gugur di karbala untuk mempertahankan hak-haknya ?.

Surya memancarkan sinar kehidupan, pohon mulai disinari, bakal buah akan segera tumbuh di musim mendatang. Namun ada buah yang sudah terlebih dulu tumbuh walaupun belum waktunya tiba. Buah itu akhirnya gugur, dengan segala cerita di dalamnya, yang tak mungkin dilupakan oleh sang pohon.

Aku tak tau dan masih meraba semua yang telah terjadi, dinginnya kopi ini karena masa hangat kopi ini telah usai atau karena terjangan hujan yang begitu deras, walaupun ku tau hujan tersebut hanya sekejap dibanding dengan hangatnya kopi ini yang telah bertahan bertahun-tahun. Hujan datang membawa kesunyian, mengakibatkan ruang sunyi dalam sepi saat malam menyendiri.

Dalam ledakkan amarah umpatan keluar untuk Tuhan “jika ujungnya kopi ini akan terasa dingin dan hambar, mengapa kau memberi gairah hangat dan manis cukup lama”. Dalam situasi dan kondisi yang telah terjadi aku yakin bahwa Tuhan sedang menguji hambahnya, atau bahkan Tuhan bersekongkol dengan semesta untuk menjadi bara api agar tanah liat menjadi lebih berharga dan bermanfaat dari sebelumnya.

Dalam gundah mencoba mengambil langkah, terus berjuang untuk menghangatkan kopi ini hingga waktunya untuk pulang, menyimpan kopi yang telah dingin dalam lemari lalu menyeduh kopi yang baru, atau bahkan memutuskan tak akan menyeduh dan menikmati kopi untuk selamanya.


EmoticonEmoticon