Showing posts with label Kehidupan. Show all posts
Showing posts with label Kehidupan. Show all posts

Sunday, July 15, 2018

Tuhan Yang Tak Ku Kenal


Sejak kecil saya telah diperkenalkan Tuhan oleh orang tua saya. Tuhan yang diperkenalkan kepada saya memiliki dua sifat kuat yang mendefinisikan-Nya yaitu "pengasih" dan "penyayang". Tuhan selalu mengasihi apa saja yang diciptakan-Nya dan sifat penyayang yang selalu mengayomi dan menjadikan rasa nyaman untuk berlindung dibawah-Nya.

Seiring berjalannya waktu dan saya menginjak masa remaja. Ketika saya mulai dapat berpikir dan merabah alam semesta secara perlahan. Betapa kagetnya mendengar gambaran Tuhan yang sekarang, Tuhan yang begitu kejam, Tuhan yang keras, Tuhan tanpa toleransi. Sangat berbeda dengan Tuhan yang dikenalkan oleh orang tua saya, yang begitu mengasihi dan menyayangi umat-Nya.

Tuhan masa kini yang semakin kerdil, bagaimana tidak?. Tuhan yang maha besar sekarang harus tunduk dan patuh mengikuti fatwa-fatwa pemuka agama, Tuhan yang diseret kemana-mana untuk mengikuti elit parpol saat kampanye, Tuhan yang dipaksa turun ke jalan untuk memenjarakan seseorang, Tuhan yang hanya dijadikan tameng saat seseorang bersalah.

Proses terjadi begitu cepat, hakikat Tuhan yang agung semakin dikerdilkan mengikuti kepentingan oknum tertentu. Hakikat Tuhan secara epistimologi dan ontologi seakan sirna oleh terjemah-terjemah dan tafsir pemuka agama dengan teologi masing-masing. Teologi yang belum tentu benar namun tak mau disalahkan. Sampai kapan pengkerdilan Tuhan akan terus terjadi?

Akankah fitrah dan hakikat Tuhan akan kembali ke asal yaitu yang maha tanpa definisi? Atau akan tetap menjadi Tuhan yang diperbudak manusia? Bagaimana nasib Tuhan di masa mendatang?

Mungkin semua terjadi karena over dogmatis pada hal tertentu, dogmatis terhadap agama, dogmatis terhadap fiqih, dogmatis terhadap parpol, dogmatis terhadap tafsir-tafsir yang menguntungkan pihak tertentu. Tuhan menjadi berlipat ganda dan menjadi serpihan-serpihan kecil.

Bagaimana sikap kita selanjutnya? Berusaha mengembalikan hakikat Tuhan? Atau justru terjerumus pada kumparan yang semakin mengkerdilkan Tuhan? Perlukah Tuhan dibunuh agar oknum-okmun tertentu tak dapat memanfaatkan nama Tuhan demi kepentingan tertentu?

Read More

Wednesday, July 4, 2018

Baik atau Benar

Kita sering mendengar kata baik dan benar dalam kehidupan. Entah kita benar-benar memahami esensi baik dan benar, atau hanya latah dan masuk angin tentang kebenaran. Bahkan kita tak pernah sadar bahwa pertentangan, perpecahan, dan carut-marut yang terjadi didalangi oleh keyakinan antar kebenaran. Walaupun kita tau sampai kapanpun kita tak pernah menemukan hakikat yang sebenarnya benar.


Dalam keyakinan apapun manusia dituntut untuk menemukan kebenaran, karena Tuhan tau sampai kapanpun manusia tak akan pernah menemukan kebenaran sejati. Namun manusia dengan angkuhnya menyatakan diri telah menemukan kebenaran dan menghakimi manusia lain akan kebenaran. Walaupun yang ia permasalahkan bukan kebenaran mutlak, namun hanya kebenaran menurut pihak tertentu.

Dalam kehidupan ini kita juga mengenal adanya esensi baik, baik merupakan kebenaran ataupun ketidakbenaran yang disetujui oleh beberapa individu ataupun kelompok kecil dan besar. Namun kebaikan ini tak pernah menjadi pemicu pertentangan, karena mereka telah sadar bahwa ketidakbenaran yang disetujui akan menjadi kebenaran.

Selain membutuhkan persetujuan, kebaikan yang menjadi kebenaran membutuhkan waktu, momen, dan tempat yang tepat untuk menjadi kebenaran. Jika es masuk dalam cairan yang bernama teh akan menjadi kebenaran karena tempatnya yang tepat. Beda cerita jika es tersebut masuk dalam sayur ataupun berada di atas kertas pekerjaan yang ada di meja.

Manusia dituntut bukan hanya olahraga namun juga olahrasa. Karena keindahan dalam kehidupan yang kita jalani akan lenyap dikarenakan rasa yang kita miliki tak mengikuti alur alam semesta. Bahkan pohon mengikuti arah hembusan angin untuk bertahan, bukan berarti pohon tersebut kalah oleh hembusan angin. Sama halnya manusia, tak perlu mempertentangan kebenaran yang semu jika kita tak mampu menemukan kebenaran yang hakiki. Ikuti alur dan irama alam semesta untuk bertahan dalam kehidupan.
Read More

Wednesday, March 7, 2018

Mabok Menuju Tuhan

Mabok Menuju Tuhan - Manusia diciptakan sebagai makhluk sempurna. Namun kesempurnaan itu masih terdapat anomali-anomali yang melekat pada diri manusia. Bahkan manusia sering mendefinisikan hakikat sesuatu yang menurut manusia benar, belum tentu benar seutuhnya. Apalagi makhluk yang terbatas mendefinisikan zat yang tak terbatas. Semua yang tercipta dalam semesta ini memiliki anomali masing-masing, kecuali sang pencipta itu sendiri. 

Untuk dapat memahami esensi Tuhan, manusia dapat mengambil jalan memeluk satu keyakinan. Dalam masing-masing keyakinan mengajarkan jalan bagaimana memahami esensi Tuhan. Jalan yang diajarkan merupakan pesan dari Tuhan yang dijabarkan oleh pemuka agama tersebut. Walaupun itu pesan langsung dari Tuhan. Banyak yang menjabarkan sesuai keinginan dan kepentingan. 


Sumber Foto ://www.pxhere.com

Kepercayaan atau keyakinan, merupakan salah satu komponen yang dipegang teguh sebagian manusia yang ada di muka bumi ini. Dimana manusia selalu berkaitan erat dengan kepercayaan untuk pedoman menemukan Tuhan. Eksistensi keyakinan telah ada sejak manusia dapat mengendalikan akal untuk mencapai Tuhannya. 


Kita dapat mengambil jalan menuju Tuhan dengan memeluk satu keyakinan. Namun untuk menyempurnakannya kita harus menggunakan nurani kita. Karna nurani akan menunjukan jalan terbaik untuk kita menemukan Tuhan. Seorang tokoh sufisme Jalaludin Rumi mengatakan. Untuk memahami sesuatu yang ada di dunia membutuhkan akal fikiran. Namun untuk mencapai Tuhan injak-injaklah kepalamu. Karena dihadapan tuhan akal dan fikiran tak berguna. 

Untuk mencapai suatu kota yang jauh membutuhkan kendaraan besar seperti bus dan kereta. Setelah sampai kota tersebut dan kita akan menuju suatu desa, kita menggunakan kendaraan kecil seperti motor dan becak. Sama halnya ketika kita hidup dan berjalan menuju Tuhan. 

Untuk mencapai tahapan mendekat pada Tuhan, dibutuhkan cinta, rindu, dalam kondisi "mabok". Manusia tidak mungkin sampai kepada pemahaman seperti apa tuhan jika belum memasuki kondisi mabok. Tapi bagaimana kita dapat jatuh cinta dengan zat yang bisa dibilang "abstrak", apalagi dalam kondisi mabok? Menuju Tuhan dengan akal fikiran hanya akan mendapatkam gambaran-gambaran tentang Tuhan. Namun jika menuju Tuhan dengan cinta dalam kondisi mabok akan dapat lebih memahami hakikat Tuhan, walaupun tetap ada anomali-anomali dan batasan. 

Dalam kehidupan modern, manusia cenderung mengabaikan Tuhan. Bukan hanya yang benar-benar melupakanNya. Tetapi juga yang menuhankan objek pengganti Tuhan. 

Menuhankan agama, menuhankan aliran, menuhankan kelompok, ambisi  terhadap surga, dan sebagainya. Walaupun semua adalah jalan menuju Tuhan. Jalan tersebut akan cacat karena menganggap yang lain lebih rendah. 

"tak perlu merendahkan untuk menjadi tinggi, tak perlu memendam untuk melampaui, tak perlu saling sikut untuk menuju Tuhan, karena semua itu tak berlaku bagiNya".  
Read More

Tuesday, February 27, 2018

Masa Depan Hanya Ilusi

Masa Depan Hanya Ilusi - Kita sering berpikir bahwa hidup ini berat dan rumit. Banyak pertimbangan untuk mengambil suatu langkah. Semua langkah dan keputusan berakibat sesuai jalan tempuh. Sehebat apapun jika status kita "manusia", tak akan luput dari rintangan. Entah itu kecil maupun besar siap menghadang.

Segala kegaduhan dalam pikiran kita tentang kehidupan. Kita selalu mencari jalan tercepat dalam masalah yang kita hadapi. Atau dalam bahasa lain kita mencari "kejernihan" untuk mencapai "ketenangan". Walaupun tak selamanya jalan yang kita ambil membuat kita lebih baik dari sebelumnya.
Sumber Foto ://www.pxhere.com
Mungkinkah masa depan hanya ilusi? Mungkin iya mungkin tidak. Karna memang semua yang akan datang masih abu-abu.

Analisis dalam suatu masalah akan memberikan jalan bagaimana kita menghadapinya. Namun yang dinamakan analisis baru pemetaan masalah dan teori untuk menghadapi masalah tersebut. Untuk hasil manusia tidak bisa memastikan hal tersebut.

Kita tidak tau besok akan seperti apa dan sudah mengalami hari kemaren. Masa depan atau esok hari hanya bisa diprediksi tanpa ada fakta sebelum semua terjadi. Esensi ilusi kehidupan terjadi pada masa mendatang yang belum kita ketahui dan masa lampau yang tidak kita ketahui. Dalam masa lampau yang tidak kita ketahui hanya ada bayangan dalam pikiran kita. Mungkin dulu seperti ini, mungkin seperti itu, dan semua serba mungkin karna kita tak mengalaminya.

Ketika awan berkumpul menjadi gumpalan gelap diiringi oleh gemuruh dan kilatan-kilatan petir yang menyambar. Kita selalu berkata "mungkin hujan akan turun" namun kita tak bisa memastikan apakah akan turun hujan atau hanya mendung. 

Kita terjebak dalam ilusi pemahaman ada yang tiada, ataupun ketiadaan yang ada. Kita selalu berandai-andai akan masa depan. Walaupun kenyataan tak semanis itu. 

Mungkinkah kita bisa memastikan masa depan kita? Jika yang akan terjadi satu dua jam kedepan kita masih mengandalkan kata "mungkin"?. 

Bisa ataupun tidak bisa itu bukanlah hal terpenting. Yang terpenting bagaimana kita mengevaluasi yang telah berlalu. Menjalani yang sekarang. Dan bersiap sebaik mungkin untuk yang akan datang. 
Read More

Sunday, February 25, 2018

Esensi Bahagia

Esensi Bahagia - Efisiensi untuk mencapai kebahagiaan hidup dapat melalui banyak cara. Kalau berbicara efisiensi kebahagiaan masyarakat kita paling unggul untuk menyiasati hal tersebut. Masyarakat Indonesia memanfaatkan sugesti untuk mendapatkan kebahagiaan. Hanya butuh rokok dan kopi untuk menikmati hidup. Mungkin dalam barometer umum efisiensi kebahagiaan itu tidak layak. Namun dalam kenyataan kita bisa melakukan itu dan cukup membuat kita bahagia. 

Dalam pemahaman kita tentang efisiensi kebahagiaan mungkin sebagian besar beranggapan bahwa kategori manusia yang bahagia adalah yang memiliki mobil, uang banyak, rumah mewah, perusahaan berderet. Walaupun hakikat kebahagiaan sebenarnya adalah manusia yang "merasa" berkecukupan. Banyak orang yang bisa saja kaya. Namum memilih memilih kesederhanaan karna ia telah mendapatkan kebahagiaan itu dalam kondisi sederhana. 


Sumber Foto : https://www.pxhere.com
Mencari konsep agar menemukan kebahagiaan. Karena manusia memiliki konsep masing-masing untuk mencapai kebahagiaan. Ada yang hidup sederhana telah menemukan kebahagiaan. Ada yang mengejar dunia untuk mencapai kebahagiaan. Yang sederhana dan telah menemukan kebahagiaan tak perlu mengikuti yang mengejar dunia. Bisa jadi jika yang sederhana mengikuti langkah yang mengejar dunia malah terperosok dalam jurang kesedihan, kepedihan, dan kehancuran. 

Banyak konsep menuju kebahagiaan kehidupan. Namun cara palingudah untuk mencapai kebahagiaan adalah "bersyukur". Kita tak akan menemukan kebahagiaan jika ambisi dalam fikiran kita "overload", sedangkan tiada rasa syukur dalam kehidupan kita. 

Jika kita tak bisa mengendalikan ambisi dalam hidup. Kita tak akan menemukan titik kebahagiaan. Karna dalam substansi ambisi, ialah mendapatkan sesuatu yang lebih secara terus menerus. Kita dapat 1, trus berobsesi mendapat 2, mengejar lagi 3, mati-matian mendapatkan 4. Terus berlangsung dan semakin hilang rasa kebahagiaan. 

Yang terpenting dalam hal mendapatkan kebahagiaan adalah jangan sampai mengganggu kebahagiaan orang lain. Jangan sampai terjebak dalam presepsi bahwa cara mendapatkan kebahagiaan hanya dengan satu cara.  
Read More

Sunday, February 18, 2018

Ruang Waktu

Ruang Waktu - Ruang waktu merupakan dimensi yang telah melekat pada alam semesta ketika awal penciptaan hingga saat ini. Hal yang tak dapat dipisahkan karna telah menjadi satu kesatuan, atau dalam bahasa jawa disebut "manunggal". Ruang terus berkembang dan waktu terus berjalan. Kisah pewayangan menggambarkan dimensi ruang sebagai "Batari Durga". Dimensi waktu ialah "Batara Kala". Merek bisa menjadi suami-istri, orang tua dan anak, bisa menjadi dua hal yang menyatu ataupun dua hal yang berdampingan.

Manusia sebagai makhluk yang terdiri dari jasad dan ruh, pada saat menjalani kehidupan berdampingan dengan ruang waktu. Ruang sebagai tempat berproses mencari eksistensi diri sebagai manifesitasi dan pemahaman tentang waktu. Sedangkan waktu adalah yang tak terbatas dan terus berjalan. Didalamnya terdapat manusia yang sedang berproses mendialogkan kesadaran diri dan berada pada ruang dimana manusia tersebut ada.

Ruang waktu adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia, karna dua hal tersebut merupakan satu-satunya alat untuk kita dapat memahami sebab akibat, ataupun situasi kondisi. Ruang mempunyai tiga unsur yaitu panjang, lebar, dan tinggi. Waktu memiliki penggambaran yaitu detik, menit, jam, hari, bulan, tahun, fajar, siang, senja, malam. 
Sumber Foto : https://www.pxhere.com
Kita dapat berbagi waktu namun tidak dapat berbagi ruang. Dengan orang lain kita bisa menjalani waktu yang sama, tetapi kita tidak dapat menjalani ruang yang sama, walaupun kita dengan orang lain bersebelahan, tetapi kita dan orang tersebut mempunyai ruang masing-masing dan berjalan dalam waktu yang bersamaan.

Setiap interaksi yang terjadi pada sesama manusia ataupun penciptaan lain selalu berada pada suatu ruang, tanpa kita sadari waktu selalu mendampinginya. Waktu tak perlu persetujuan makhluk untuk ia berjalan. Entah kita setuju ataupun tidak, waktu terus berjalan untuk menghabiskan masa eksistensi kita di dunia.

Manusia sebagai salah satu makhluk yang takut akan kehabisan waktu. Tanpa disadari kita membuang banyak waktu dengan ketakutan tersebut. Banyak yang takut akan hari esok seperti apa, hingga ia tak menyadari bahwa hari ini membutuhkan tindakan untuk persiapan hari esok. Banyak yang selalu terbayang kenangan masa lalu, hingga kita tak menyadari bahwa kita punya hari esok yang perlu dipersiapkan.

Apakah waktu terus berjalan maju atau bisa saja mundur? Jika kondisi kita sekarang lebih buruk dari kemaren apakah itu bisa disebut mundurnya waktu? Jawabannya tidak.

Waktu terus berjalan maju. Jika hari ini hidup kita lebih buruk dari hari kemaren itu bukan waktu yang mundur, tetapi kondisi kehidupan kita yang sedang menurun. Karna kita selalu mempunyai hari kemaren dan kita menunggu datangnya hari esok.

Apakah kita dapat membangun atau menghancurkan ruang dan waktu? Jawabannya hanya ruang. 

Kita dapat membangun suatu rumah ataupun menghancurkan isi dari dunia ini. Tetapi kita tak dapat menghancurkan, untuk menghentikan waktu sejenak saja kita tidak mampu. Walaupun dunia ini telah kiamat ataupun hancur, waktu akan terus berjalan pada dimensi-dimensi yang lain.

Bagaimana dengan kata-kata "semua yang diciptakanNya akan kembali padaNya". Apakah itu mundur? Jawabannya tidak.

Karna substansi dari kata "kembali" pada kalimat tersebut bukan mundur. Tetapi kita kembali pada suatu ruang yang dulu pernah kita singgahi.

Lalu bagaimana kita harus memanfaatkan waktu? Intinya berproseslah.

Tuhan tak menuntut makhluk yang diciptakan menjadi sempurna. Tuhan hanya menuntut kita untuk berproses menjadi lebih baik. Dan ingat satu hal, jangan pernah beranggapan "time is money". Karna waktu jauh lebih berharga daripada itu.


Untuk Baca Artikel Lain Klik Disini
Read More

Friday, February 16, 2018

Sebab Akibat



Sebab Akibat - Dalam kehidupan ini kita sering mendengar istilah “sebab akibat”. Hal tersebut merupakan “sesuatu” yang terjadi karena “sesuatu” yang terjadi. Rumus yang berlangsung berabad-abad tidak berubah yaitu sesuatu kejadian adalah hasil dari sebab dan kondisi setelah kejadian disebut sebagai akibat. Atau dengan kata lain bahwa sesuatu yang terjadi diawali degan sebab dan diakhiri oleh akibat. Tidak mungkin munculnya suatu akibat tanpa diawali oleh sebab, karena sebab dan akibat memiliki hubungan korespondensi pada  alam semesta ini.

Alam semesta ini memiliki tatanan dan sistem yang tersusun sangat rapi dalam prakteknya memiliki hubungan satu sama lain yang membentuk rantai kehidupan. Tidak ada satu bidang pun  dalam dunia ini tanpa terhubung dalam bidang yang lain. Hal ini memperkuat bahwa adanya akibat dalam dunia ini karena adanya sebab. Pernahkah kita mengalami sesuatu yang terjadi tanpa adanya sebab?

Dalam hal ini manusia terbatas pada pengetahuan yang “terjadi”  dan “akibat” yang terjadi. Jarang ada manusia yang dapat menyusun secara rinci dari sebab, sesuatu yang terjadi, dan akibat. Karena susunan tersebut telah diatur oleh alam semesta dengan rinci. Fikiran dan ekspektasi manusia hanya merupakan gambaran susunan hal  tersebut. Sangat kecil kemungkinan gambaran manusia tentang susunan sebab, kejadian, serta akibat sama persis dengan kenyataan yang terjadi.

Manusia yang sedang berekspektasi  seperti orang yang sedang terbelenggu dalam gua ketidak tahuan yang diselimuti oleh kegelapan. Hanya dapat melihat akibat yang terjadi karna suatu sebab. Tidak dapat berbuat banyak karna terkendala batasan-batasan diri. Ditambah beratnya beban yang dipikul serta tenaga yang telah habis terkuras karena terlibat dalam sebab suatu kejadian.
Sumber Foto : https://www.pxhere.com
Manusia menyangka bahwa bayang-bayang sebagai kenyataan hal yang akan terjadi, walaupun tidak ada realita selain bayang-bayang dalam fikiran manusia. Dalam keterbatasan itu seringkali manusia tidak menerima  suatu akibat yang tidak sejalan dengan bayang-banyang dalam fikirannya. Walupun manusia itu sadar atau tidak bahwa tidak ada realita masa mendatang selain bayang-bayang yang ada dalam fikiran mereka.

Namun dalam bayang-bayang tersebut akan terlihat gambaran yang sebenarnya karna adanya ruang dan waktu yang berkaitan dengan sebab akibat. Berangsur-angsur manusia menyadari bahwa mereka harus menyesuaikan ekspektasi yang ada dalam fikirannya dengan akibat dari sesuatu yang terjadi. Agar manusia tidak tersiksa dengan belenggu keterbatasan yang ada pada dirinya.

Jika manusia hanya berkutat pada  ekspektasi akibat sesuatu yang terjadi, ia akan tersiksa oleh kenyataan yang terjadi karna tidak sesuai ekspektasi yang ia susun. Fikiran dan perbuatan terkadang menjadi suatu hal yang bersebrangan, ditambah lagi sesuatu yang terjadi pada dirinya. Masuklah pada sebab dan bersiaplah menerima akibat agar ekspektasi dapat luntur oleh kenyataan.

Ekspektasi paling baik adalah yang keluar dari fikiran jernih dan disempurnakan oleh hati nurani. Karna hati nurani sadar bahwa akibat tak akan sama dengan ekspektasi. Dan nurani akan selalu mengikuti perkembangan yang terjadi pada suatu akibat. Bahkan pohon pun tak pernah protes jika ia ditebang, walaupun ia tak tau apa penyebab ia ditebang.

Pada intinya semua sebab akan menimbulkan akibat. Kita tak tau akibat yang terjadi itu buruk atau baik bagi kita. Usaha untuk memperbaiki akibat adalah membenahi sebab agar akibat yang terjadi menjadi baik bagi diri kita.

Manusia cenderung bernafsu dan secara cara tak sadar menghilangkan cinta dalam dirinya. Entah itu ia sadar atau tidak bahwa cinta adalah kekuatan terbesar yang dihasilkan oleh nurani. Cinta merupakan elemem paling kuat untuk menghadapi ketidak selarasan akibat yang terjadi dengan ekspektasi yang ada.

Banyak dari kita yang semangat menanti suatu sebab dari sebuah kejadian. Tetapi  jika sebab tersebut tak sesuai harpan kita, apakah yang akan kita lakukan? Banyak dari kita yang tidak menerimannya, sulit menerima, atau bahkan memberontak keadaan. Walaupun sehebat apapun kita berontak tak akan merubah akibat yang terjadi karena sebab akibat telah disusun oleh alam.

Jangan seperti orang yang hendak tenggelam. Apa saja diraih agar tidak tenggelam.  Wlaupun sesuatu yang diraih tidak relevan dengan sesuatu yang dapat menolong  jika tenggelam. Jangan menghalalkan segala cara jika sesuatu tak sejalan dengan anganmu, walaupun kau tau cara tersebut tidak dapat membuat suatu kejadian menjadi lebih baik.

Tak usah susah payah memecah tembikar yang tak sesuai dengan keinginanmu, semua yang kau lakukan jika telah terjadi akan sia-sia. Persiapkanlah saat akan memproses tanah liat menjadi tembikar, agar tembikar yang kau siapkan sebelum terbentuk sesuai yang ekspektasi yang kau susun.

Dalam menghadapi tak sejalannya akibat dengan ekspektasimu bukan dengan merubah akibat itu sendiri.  Cara paling tepat ialah mempersiapkan  sebab sebaik mungkin agar akibat yang terjadi sejalan dengan apa yang kau pikirkan. Merendahkan ekspektasi, mempersiapkan suatu sebab, dan mengikut sertakan cinta didalamnya akan membuat kita menjadi nyaman menjalani semua.

Read More

Wednesday, February 14, 2018

Situasi Kondisi



Situasi Kondisi - Setiap manusia yang berada dalam sebuah keadaan, disaat semua impian, ekspektasi harapa, dan cita-citanya hancur. Rencana yang telah lama disusun dan dipikirkan secara matang ternyata salah. Disisi lain masih ada kebenaran yang tersembunyi, dan disatu sisi ada kebahagiaan yang tampak semu. Ternyata semua itu hanya menjadi jalan buntu yang memberi harapan tanpa kenyataan. Saat kebenaran yang sejati dikuasai oleh masalah yang selalu menjadi beban setiap langkah kemanapun kita berjalan menuju harapan dan cita-cita. Maka ketidak benaran yang terdapat kebahagiaan di  dalamnya menjadi jalan pintas bagi yang telah tersudut pada jalan buntu.

Pada saat itu pula ada kesempatan memutar balik fakta sifat manusia yang telah ada dalam dirinya, atau mendapatkan suatu kesempatan sangat mudah untuk memperkaya diri dengan mencuri disaat keadaan yang sangat terpuruk dan tidak ada lagi yang dapat menolong diri kita. Pada saat itu pula hal yang buruk menjadi sosok pemimpin yang tangguh dalam diri kita, layaknya seorang raksasa yang berubah menjadi raja yang bersinar ditengah kegelapan.

Setiap orang pasti mengalami hal tersebut kemarin, sekarang, atau esok yang akan datang. Tetapi banyak yang tidak menyadari keadaan seperti itu sebenarnya adalah proses menuju hal yang buntu yang akan mencelakakan kita atau segera mengambil langkah putarbalik untuk menyelamatkan diri kita sendiri, untuk kembali ketitik awal untuk pelan-pelan memecahkan masalah dengan melibatkan hati nurani.

Kita dengan mudah tertarik dengan kebahagiaan semu yang ada di depan kita yang sejatinya akan menyiksa diri kita, seperti seekor lebah yang tertarik dengan sekuntum bunga mawar yang penuh akan duri. Bahkan hal yang buruk tersebut adalah hal terbaik untuk semakin dekat dengan Tuhan. Jika kita tidak pernah ada rasa takut untuk menghadapi suatu masalah yang berat. Itu adalah hal terbaik untuk kita semakin dekat dengan Tuhan. Jika kita tidak takut menghadapi suatu permaslahan yang sangat berat dalam kehidupan kita, tidak hanya focus  dalam kebahagiaan hidup kita, namun kita tetap terus berbuat dengan kebenaran dalam diri dan perilaku kita. Hal tersebut akan menjadi sebab kita tidak akan jauh dengan Tuhan.

Saat ada daun dari sebuah pohon jatuh karena sapuan angin, dia akan mengikuti arah dimana angin akan menghempaskannya di suatu tempat yang tiggi atau bahkan sampai ke langit. Sementara batang pohon yang patuh pada angin tetap berada ditanah. Pada saat kita menemui dan merasakan jalan yang buntu, pilihlah jalan yang kita anggap mudah, hal tersebut akan memastikan kebahagiaan dan ketenangan dalam hidup, tetapi hal tersebut akan merusak karakter kita? Bukankah itu akan menjadikan kita seperti pecundang? Bahkan hal tersebut akan menjauhkan kita dari tuhan? Apakah zona nyaman akan membuat diri kita menjadi aman selamanya? Bukankah tantangan dan ujianakah yang memproses diri kita menjadi baik? Bukankah tanah liat jika dibiarkan begitu saja akan menjadi barang yang tidak berguna? Dan tanah liat yang diberikan api dan sentuhan akan menjadi barang yang sangat mahal?  Apa yang harus kita lakukan untuk memaknai semua ini?
Sumber Foto : https://www.pxhere.com
Banyak pertanyaan dalam kehidupan ini. Banyak pula yang ragu dengan pilihannya.  Pilihan yang dianggap baik bahkan bisa merusak diri sedangkan pilihan yang buruk membuat diri kita semakin baik. Seringkali kita memaksakan kehendak yang kita pilih berpihak kepada kita. Kita tidak pernah menyesuaikan kebutuhan dengan keinginan. Bahkan langit luas tidak akan memaksakan rumput bersamanya, karna ia tau bahwa rumput mempunyai hak bersanding dengan tanah dan bumi.

Terjebak dalam nafsu keinginan dan ekspektasi yang berlebihan akan membelenggu diri dalam keterpurukan dan bayang-bayang gagal. Mengakibatkan nafsu dan amarah tidak sejalan dengan kenyataan. Hati yang luas untuk merasakan beralih fungsi menjadi gudang emosional. Mereka yang dikuasai emosi karna kegagalan akan menganggap bahwa hidup ini tidak adil. Pemikiran manusia tidak akan pernah sama dengan substansi kehidupan.

Masalah dalam kehidupan hanya bisa diselesaikan dengan solusi dari masalah itu sendiri. Walaupun terkadang solusi itu kita anggap sebagai hal yang buruk atau tidak masuk akal. Kita seringkali memaksakan kehendak dan memilih solusi yang kita anggap baik. Namun tidak sejalan dengan akar masalah. Tanaman hanya bisa tumbuh dengan air, walaupun kita memaksakan kehendak dengan susu tidak akan berguna bagi pertumbuhan tanaman, meski susu kita anggap sesuatu yang lebih baik dari air.

Hal yang sangat berpengaruh pada jalannya kehidupan manusia ialah sifat. Pernahkah kita berfikir akankah kita hancur dengan sifat kita sendiri? Pernahkah kita berfikir untuk merubah sifat? Apakah sifat dapat dirubah? Berapa lama dan apa fungsi merubah sifat?

Sifat merupakan pemegang kendali dalam diri kita. Semua yang kita lakukan adalah bentuk perwujudan dari sifat yang kita miliki. Sifat terbentuk dari hati nurani, fikiran, dan kebiasaan. Hati nurani yang luas sebagai samudra, fikiran sebagai angin yang menimbulkan ombak, dan kebiasaan sebagai cuaca yang terkadang membuat cuaca itu menjadi badai yang berbahaya.

Selami lautan hati nurani agar terhindar dari sapuan ombak maupun badai yang menerjang. Hati nurani merupakan elemen yang tidak dapat diukur nalar. Jika anda dapat mengukur secara detail hati nurani, mungkin yang anda ukur bukan hati nurani melainkan kolam renang.

Read More

Tuesday, February 13, 2018

Teka-Teki Kehidupan

Teka-Teki Kehidupan - Substansi kehidupan ialah suatu penciptaan abstrak oleh sang pencipta diperuntukkan semua makhluk hidup termasuk manusia agar hakikat sang pencipta dapat dikenali oleh makhluk yang diciptakannya. Namun manusia harus melewati fase untuk dapat mengetahui siapa yang menciptakan semua ini dan waktu yang akan membatu dalam menemukan semua ini.

Semua yang diciptakan mempunyai tujuan. Tujuan tersebut masih berbentuk teka-teki, hanya dapat dipecahkan oleh proses dan waktu ketika kita berjuang untuk mencari hakikat semua ini. Sama halnya saat anak singa yang baru lahir di dunia ini tidak mengetahui apa fungsi kuku dan taring yang dia miliki. Seiring berjalannya waktu dia akan dapat memecahkan teka-teki tentang kuku dan taring yang dia miliki.

Semua penciptaan ini mempunyai peran, fungsi, dan tugas masing-masing. Kita harus menggali peran kita dalam penciptaan alam semesta ini. Tidak mungkin jika pohon kaktus menggantikan peran pohon teratai untuk hidup di air, begitu juga pohon teratai akan mati jika hidup di tanah yang gersang.

Semua bentuk penciptaan alam semesta ini menimbulkan gejolak dalam diri setiap manusia, sebagian besar memiliki kecenderungan malas untuk untuk mencari sejatinya peran yang harus dia jalankan dalam kehidupan ini. Sebagian lainnya terus berjuang untuk dapat memecahkan teka-teki ini. Didalam kubu yang malas akan selalu menyalahkan teka-teki ini. Namun di pihak lain selalu sabar dan terus menggali apa yang sebenarnya harus ia perankan untuk alam semesta ini.

Dalam pencarian ini manusia memiliki masing-masing metode yang mereka gunakan untuk dapat membaca peran yang harus ia kerjakan, ada yang menggali potensi dirinya sendiri, ada yang memanfaatkan penciptaan lain untuk menemukan hakikat dirinya, ada yang mengikuti alur kehidupan yang telah ada dan sedang berjalan, manun tidak sedikit yang hanya diam dan menunggu semua teka-teki ini. Walaupun dia tau semua teka-teki ini tidak akan membuka dengan sendirinya tanpa ada usaha dari masing-masing makhluk yang telah diciptakan.
Sumber Foto : https://www.pxhere.com
Dalam kehidupan ini manusia selalu bimbang dengan kehidupanya. Manusia selalu bertanya peran apa yang harus dia perankan, tugas apa yang harus dia emban sebagai makhluk yang diciptakan. Karena semua makhluk yang diciptakan di dunia ini pasti memiliki tugas dan peran masing-masing. Yang menanbah beban manusia ketika dia tahu bahwa setiap yang diciptakan pasti memiliki tugas dan peran masing-masing. Ketidaktahuan akan tugas dan peran itu yang membuat mereka gundah gulana akan tugas dan peran yang harus dia kerjakan. Hal yang selalu digenggam dalam kebimbangan itu ketika dia yakin pasti ada petunjuk dalam sebuah teka-teki dan pasti ada jawaban ketika petunjuk itu berhasil dia pecahkan.

Manusia diberikan kesempurnaan berupa akal dan fikiran untuk memecahkan teka-teki alam semesta ini. Kesempurnaan itu akan menjadi beban karena setiap hari kita dibayangi oleh dua hal yang selalu membayangi fikiran yaitu “Dosa” dan “Pahala”. Karena dua hal tersebut yang akan menentukan status manusia di alam selanjutnya. Dua hal tersebut yang selalu membayangi manusia untuk melangkah dan melakukan tindakan. Tindakan yang mengakibatkan kerugian bagi makhluk lain akan mengakibatkan dosa dan tindakan yang menguntungkan bagi makhluk lain akan mengakibatkan pahala, dosa dan pahala kita selalu bertambah seiring berjalannya waktu. Banyak tindakan kita yang tanpa kita sadari menimbulkan dosa dan pahala.

Dalam kehidupan ini manusia dituntut untuk menjadi makhluk yang selalu berfikir sebelum bertindak. Karena dalam tindakan tersebut akan mengakibatkan keuntungan dan kerugian yang dialami manusia itu sendiri ataupun bagi makhluk alam semesta yang lain. Manusia sebagai makhluk sempurna di alam semesta ini dituntut untuk selalu berfikir sebelum melakukan sesuatu karena dalam hukum alam ada yang dinamakan “Sebab” dan “Akibat”. Hukum sebab akibat berhubungan erat dengan unsur alam semesta lainnya yaitu “Ruang” dan “Waktu”. Jika manusia melakukan sesuatu hal pasti akan mengakibatkan terjadinya sebab akibat dan akan membutuhkan ruang dan waktu untuk melakukan hal tersebut, sebagaimana hukum alam yang berlaku dan selalu ada setiap kita melakukan sesuatu baik itu yang kita sadari ataupun yang tidak kita sadari.

Dalam kehidupan ini Tuhan tidak menuntut manusia utuk menjadi makhluk yang sempurnya, Ia hanya menuntut kita terus berproses. Dalam proses tersebut kita akan menjumpai hal yang sering dianggap sebagian besar manusia sebagai “Kegagalan”. Namun sejatinya yang dianggap kegagalan itu belum tentu kegagalan mutlak, mungkin itu hanya sebuah proses yang belum jadi seutuhnya, karna dalam berproses itu kita masih meraba apa yang ada disekeliling kita. Kita tidak akan bisa membedakan rasa gula dan garam jika kita tidak berproses untuk meraba kedua hal tersebut, teruslah berproses hingga menemukan kebenaran yang mutlak.
Read More