Friday, March 9, 2018

Renungan Dalam Segelas Kopi

Renungan Dalam Segelas KopiRintik hujan menemani segelas kopi sore ini. Rintik air yang jatuh seakan menegaskan hakikat air yang selalu mengalir pada tempat yang lebih rendah melalui ruang. Mendung pun menyelimuti keceriaan sang langit. Tak terasa usia semakin hari semakin berkurang, dipenuhi oleh kesibukan dunia yang kental akan unsur “paradox”, yang terus memenjarakan diri dan memaksa mengejarnya.

Sumber Foto ://www.pxhere.com
Kita tau tujuan hidup ini untuk menemukan sang pencipta dan berjalan menuju singgah sana. Namun realitas yang terjadi banyak yang terjebak dunia yang menawarkan pesona yang sebenarnya petaka, ada yang tidak ada, dan yang pasti ternyata hanya ilusi. Semua memaksa kita untuk dijadikan prioritas dan melupakan  prioritas utama. Yang terjadi hidup berlari untuk berhenti.

Sebagian manusia berebut untuk mencapai kursi kematian dengan segala cara, menggalang pasukan huru-hara sebanyak-banyaknya. Strategi disusun sedemikian rupa untuk melancarkan langkah menuju kursi petaka. Menggoreng keyakinan, menggadaikan Tuhan, mengambil alih hak prerogatif Tuhan atas surga dan neraka. Seisi alam semesta harus tunduk padanya. Dalam hal ini bos yang memberi mandat harus taat pada aturan pekerjanya.

Sebagian lainnya sibuk memperkaya diri dengan memeras keringat anak buahnya, memenjarakan waktu pekerja untuk memperkaya  diri, menjadikan manusia lain sebagai mesin uang yang tiada lelah untuk menjadikan ia kaya. Walaupun telah diperas keringatnya, namun sang pekerja tetap tulus ikhlas mendoakan sang juragan agar memiliki banyak rejeki yang akan mengalir sedikit kepadanya.

Sebagian lagi sibuk mempertentangkan surga dan neraka hingga mereka lupa masih masih hidup didunia. Menyikut kelompok lain, menjegal diluar kelompoknya, menghujat yang tak sejalan. Mungkin mereka lupa bahwa tujuan utama hidup adalah Tuhan, buka surga dan neraka. Bahkan mereka dapat menentukan orang lain akan masuk surga ataupun neraka walaupun orang lain tersebut belum meninggalkan dunia ini.

Sebagian lain sibuk dengan misi-misi ilusi yang terdapat pada dunia maya. Melupakan dunia untuk masuk dalam fantasi. Mengabaikan dimensi waktu yang selalu  menemaninya dan yang akan mematikannya. Hidup hanya sebagai budak teknologi  yang semakin hari semakin berkembang. Dan hidupnya hanya terpaku pada satu bidang, dengan melupakan bidang-bidang yang lain.

Sebagian yang belum menemukan esensi dirinya mejadikan obyek-obyek keindahan alam sebagai bahan eksistensi agar diakui bahwa dia ada. Walaupun sebenarnya esensi ada pada diri manusia terjadi ketika manusia tersebut melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain. Mungkin orang-orang tersebut sedang lupa akan substansi ada yang sebenarnya.

Namun masih terdapat sebagian yang sibuk dengan perbuatan-perbuatan yang bermanfaat, walaupun tak terlihat. Berbuat baik walaupun tak dianggap. Memanfaatkan dunia untuk menggapai Tuhan, walaupun ditertawakan. Menyadari  semua yang terjadi adalah kehendak Tuhan namun ia terus berusaha menjadi yang terbaik. Cinta menyelimuti sepanjang perjalanannya. Kasih sayang dan  nurani menjadi sumber keceriaan.  

Sebagian lainnya hanya duduk merenung ditemani kopi dan rokok seperti kondisi saya saat ini. Menikmati keindahan Tuhan yang terbentang luas sejauh mata memandang maupun yang tak mampu dipandang oleh penglihatan, hanya keyakinan bahwa segala sesuatu yang terlihat, yang ada, yang tiada, yang tak terlihat, dan masih banyak lagi yang lainnya adalah ciptaan Tuhan. Menyadari bahwa semua  yang terjadi adalah sekenario dari Tuhan. Dan kesimpulan yang saya dapat pada pereenungan sore ini adalah Tuhan tak bisa ditebak dengan segala kejutan-kejutanNya.

Read More

Wednesday, March 7, 2018

Mabok Menuju Tuhan

Mabok Menuju Tuhan - Manusia diciptakan sebagai makhluk sempurna. Namun kesempurnaan itu masih terdapat anomali-anomali yang melekat pada diri manusia. Bahkan manusia sering mendefinisikan hakikat sesuatu yang menurut manusia benar, belum tentu benar seutuhnya. Apalagi makhluk yang terbatas mendefinisikan zat yang tak terbatas. Semua yang tercipta dalam semesta ini memiliki anomali masing-masing, kecuali sang pencipta itu sendiri. 

Untuk dapat memahami esensi Tuhan, manusia dapat mengambil jalan memeluk satu keyakinan. Dalam masing-masing keyakinan mengajarkan jalan bagaimana memahami esensi Tuhan. Jalan yang diajarkan merupakan pesan dari Tuhan yang dijabarkan oleh pemuka agama tersebut. Walaupun itu pesan langsung dari Tuhan. Banyak yang menjabarkan sesuai keinginan dan kepentingan. 


Sumber Foto ://www.pxhere.com

Kepercayaan atau keyakinan, merupakan salah satu komponen yang dipegang teguh sebagian manusia yang ada di muka bumi ini. Dimana manusia selalu berkaitan erat dengan kepercayaan untuk pedoman menemukan Tuhan. Eksistensi keyakinan telah ada sejak manusia dapat mengendalikan akal untuk mencapai Tuhannya. 


Kita dapat mengambil jalan menuju Tuhan dengan memeluk satu keyakinan. Namun untuk menyempurnakannya kita harus menggunakan nurani kita. Karna nurani akan menunjukan jalan terbaik untuk kita menemukan Tuhan. Seorang tokoh sufisme Jalaludin Rumi mengatakan. Untuk memahami sesuatu yang ada di dunia membutuhkan akal fikiran. Namun untuk mencapai Tuhan injak-injaklah kepalamu. Karena dihadapan tuhan akal dan fikiran tak berguna. 

Untuk mencapai suatu kota yang jauh membutuhkan kendaraan besar seperti bus dan kereta. Setelah sampai kota tersebut dan kita akan menuju suatu desa, kita menggunakan kendaraan kecil seperti motor dan becak. Sama halnya ketika kita hidup dan berjalan menuju Tuhan. 

Untuk mencapai tahapan mendekat pada Tuhan, dibutuhkan cinta, rindu, dalam kondisi "mabok". Manusia tidak mungkin sampai kepada pemahaman seperti apa tuhan jika belum memasuki kondisi mabok. Tapi bagaimana kita dapat jatuh cinta dengan zat yang bisa dibilang "abstrak", apalagi dalam kondisi mabok? Menuju Tuhan dengan akal fikiran hanya akan mendapatkam gambaran-gambaran tentang Tuhan. Namun jika menuju Tuhan dengan cinta dalam kondisi mabok akan dapat lebih memahami hakikat Tuhan, walaupun tetap ada anomali-anomali dan batasan. 

Dalam kehidupan modern, manusia cenderung mengabaikan Tuhan. Bukan hanya yang benar-benar melupakanNya. Tetapi juga yang menuhankan objek pengganti Tuhan. 

Menuhankan agama, menuhankan aliran, menuhankan kelompok, ambisi  terhadap surga, dan sebagainya. Walaupun semua adalah jalan menuju Tuhan. Jalan tersebut akan cacat karena menganggap yang lain lebih rendah. 

"tak perlu merendahkan untuk menjadi tinggi, tak perlu memendam untuk melampaui, tak perlu saling sikut untuk menuju Tuhan, karena semua itu tak berlaku bagiNya".  
Read More

Saturday, March 3, 2018

Kopi Dikala Senja

Kopi Dikala Senja - Senja menghampiri ditemani segelas kopi dan asap dari rokok yang menyala. Melepas penat dari hiruk-pikuk dunia tiada henti. Fikiran melayang menuju yang tak terbatas. Berjalan menyusuri ruang kosong dimensi lain. Kembali tersadar untuk menikmati panorama senja seakan tiada habisnya. Perpaduan manis dan pahit menyelimuti kehidupan dalam evaluasi senja ini. Segelas berisi cairan kehidupan dengan segala macam rasa yang diwakili oleh rasa pahit dan manis. Seakan memberi pelajaran bahwa hidup butuh keseimbangan rasa.

Sumber Foto ://www.pxhere.com

Cairan cinta yang membantah asumsi khalayak umum bahwa yang keruh tak selamanya buruk. Terkadang yang keruh dapat menjadi guru dalam menjalani kehidupan yang kaya akan ilusi. Yang pait akan terasa nikmat dengan sentuhan rasa manis dan perpaduan rasa tawar sebagai penetral rasa. Dengan situasi santai untuk menikmatinya, merubah yang keruh menjadi teman dalam kehidupan.  

Penat terus berangsur hilang dengan berkurangnya cairan cinta dalam gelas. Namun dalam gelas masih tersisa bayang wajahmu yang terus menemani setiap langkahku. Kutuliskan namamu dalam senja agar namamu lebih indah dari senja sore ini. Kau yang selalu menjadi penetral dalam kehidupanku. 

Banyak manusia yang takut kepada senja karna akan datangnya malam. Malam yang terkesan mengerikan manum tersimpan hasil evaluasi kehidupan. Waktu tak butuh persetujuan manusia untuk berjalan. Sekuat apapun untuk menahan malam, akan tetap datang dengan segala misterinya.

Sang malam mulai datang untuk senja yang lelah menemaniku sore ini. Kutitipkan rindu pada senja agar namamu lebih indah dalam keseharian. Terlampau cepat senja ini berlalu meninggalkan pandangan. Gelapnya malam mengingatkanku adanya sisi buruk dalam kehidupan.  Malam yang menjadi teman istirahat kala penat kian memuncak.  Saat manusia terhenti dalam aktivitasnya, menghiraukan sang malam dan meninggalkannya dalam kesendirian. 

Tak selamanya kehidupan menjadi gairah layaknya fajar. Namun tak selamanya buruk seperti sang malam. Siang dan senja melengkapi dalam keseharian. Rasa yang selalu manis tak selamanya memberi kenikmatan, begitu pula yang pahit dengan ciri khasnya. Seperti secangkir kopi dikala senja tiba. 

Read More

Thursday, March 1, 2018

Memperluas Perspektif Cinta

Memperluas Perspektif Cinta - Jika kau menggambarkan cinta hanya sebatas hubungan antara laki-laki dan perempuan, kau akan lebih bingung jika melihat bentuk cinta yang "abstrak" terpampang di dunia ini. Cinta telah dipersempit oleh prespektif masing-masing manusia. Dan kau akan terbentur di berbagai sudut pandang sempit saat berbicara tentang cinta di khalayak umum.

Cinta tak hanya sebatas ciuman, bermesraan, jalan bareng ataupun nonton bersama lawan jenis yang kita pilih. Cinta juga bukan hanya ungkapan atau coretan-coretan pena buku diary seseorang yang tengah kasmaran. Atau perhitungan ini itu tentang lawan jenis dan berusaha mendapatkannya. Itu semua hanya pemahaman sempit yang mengatasnamakan cinta.
Sumber Foto : https://www.pxhere.com
Cinta merupakan keadaan dan kondisi yang terdapat di dalam jiwa manusia. Kondisi yang meledak-ledak dan menggulung dalam lautan jiwa. Sesuatu yang tak bisa digambarkan namun bisa dirasakan. Sesuatu yang abstrak tanpa bentuk yang jelas untuk diungkapkan namun dapat dinikmati. Cinta dapat keluar masuk pintu mana saja yang ia suka.

Cinta bisa berwujud, situasi kondisi, ruang dan waktu, dan masalah-masalah yang ada. Bisa juga berbentuk energi dalam diri yang mempunyai frekuensi sangat besar. Bentuk fakta dari diri yang disinggahi. Namun tidak nyata bagi jiwa yang lain.

Tidak memandang golongan, keturunan, bahkan kita bisa cinta terhadap sesuatu yang tak berwujud atau yang tak diketahui. Tak peduli yang tak berwujud itu dianggap ada atu tidak oleh orang lain. Dalam diri yang terdapat cinta akan percaya dan tetap mencintai hal yang tak terwujud dan yang tak diketahui tersebut. 

Merupakan energi positif pembangun semangat yang bergejolak. Tak membutuhkan pamrih ataupun balasan dari yang kita cintai. Cinta juga tak membuat diri menjadi gelisah dan bimbang. Karna cinta senjata untuk meyakinkan diri pada setiap jiwa yang terombang-ambing.

Bisa saja cinta menjadi wujud yang terbaring di sisimu. Dan dia bisa membuat kau melupakan sejenak hiruk-pikuk dunia yang tanpa ada batasnya. Bisa berwujud atau tak berwujud yang datang tak terduga dan mungkin kedatangannya membuat kita kaget. Cinta merupakan segala hal yang memiliki energi positif dalam relung hati manusia.

"Jika kau mengejar ambisi, obsesi, apalagi napsu. Jalannya bukan cinta. Karna cinta tak bisa didapat dengan cara memaksakan kehendak"  
Read More

Tuesday, February 27, 2018

Masa Depan Hanya Ilusi

Masa Depan Hanya Ilusi - Kita sering berpikir bahwa hidup ini berat dan rumit. Banyak pertimbangan untuk mengambil suatu langkah. Semua langkah dan keputusan berakibat sesuai jalan tempuh. Sehebat apapun jika status kita "manusia", tak akan luput dari rintangan. Entah itu kecil maupun besar siap menghadang.

Segala kegaduhan dalam pikiran kita tentang kehidupan. Kita selalu mencari jalan tercepat dalam masalah yang kita hadapi. Atau dalam bahasa lain kita mencari "kejernihan" untuk mencapai "ketenangan". Walaupun tak selamanya jalan yang kita ambil membuat kita lebih baik dari sebelumnya.
Sumber Foto ://www.pxhere.com
Mungkinkah masa depan hanya ilusi? Mungkin iya mungkin tidak. Karna memang semua yang akan datang masih abu-abu.

Analisis dalam suatu masalah akan memberikan jalan bagaimana kita menghadapinya. Namun yang dinamakan analisis baru pemetaan masalah dan teori untuk menghadapi masalah tersebut. Untuk hasil manusia tidak bisa memastikan hal tersebut.

Kita tidak tau besok akan seperti apa dan sudah mengalami hari kemaren. Masa depan atau esok hari hanya bisa diprediksi tanpa ada fakta sebelum semua terjadi. Esensi ilusi kehidupan terjadi pada masa mendatang yang belum kita ketahui dan masa lampau yang tidak kita ketahui. Dalam masa lampau yang tidak kita ketahui hanya ada bayangan dalam pikiran kita. Mungkin dulu seperti ini, mungkin seperti itu, dan semua serba mungkin karna kita tak mengalaminya.

Ketika awan berkumpul menjadi gumpalan gelap diiringi oleh gemuruh dan kilatan-kilatan petir yang menyambar. Kita selalu berkata "mungkin hujan akan turun" namun kita tak bisa memastikan apakah akan turun hujan atau hanya mendung. 

Kita terjebak dalam ilusi pemahaman ada yang tiada, ataupun ketiadaan yang ada. Kita selalu berandai-andai akan masa depan. Walaupun kenyataan tak semanis itu. 

Mungkinkah kita bisa memastikan masa depan kita? Jika yang akan terjadi satu dua jam kedepan kita masih mengandalkan kata "mungkin"?. 

Bisa ataupun tidak bisa itu bukanlah hal terpenting. Yang terpenting bagaimana kita mengevaluasi yang telah berlalu. Menjalani yang sekarang. Dan bersiap sebaik mungkin untuk yang akan datang. 
Read More